Waste management has become an acute problem for the Bandung Raya area. The government has so far applied the landfill method at the final disposal site (TPA). This method is not an effective way to manage waste, as evidenced by the fire at the end of 2023 at the Sarimukti TPA, which resulted in a waste emergency in Bandung, driven by methane gas that emerged from the waste mountain. The decision of the West Bandung Regency government to limit the volume of waste transported and encourage people to manage their own waste has unsettled residents who are not ready to do so. This was observed in the RW 14 Cibaligo area, which led to organic waste piling up and causing health and environmental hazards. This issue must be resolved immediately by raising awareness among residents to manage their waste from home. This activity is carried out using counseling methods and practicing waste sorting and composting of organic waste, followed by monitoring the organic waste composting process in an aerobic composter, which produces two main products, namely compost and liquid organic fertilizer (POC). This activity has succeeded in increasing public knowledge and understanding regarding the sorting and processing of organic waste, and has led residents to produce fertilizer for their own needs. The results of compost and POC show good characteristics, based on aspects such as volume content, humidity, acidity level, compost temperature, as well as the presence of odors and animals, and aspects of dissolved solids concentration, salinity, conductivity, and acidity level of POC. These results are expected to encourage residents to remain consistent in managing their waste from their own homes, so that the environment becomes clean and healthy.Permasalahan pengelolaan sampah sudah menjadi beban akut wilayah Bandung Raya. Pemerintah selama ini menerapkan metode land fill di tempat pembuangan akhir (TPA). Metode ini bukan cara efektif dalam pengelolaan sampah, terbukti telah terjadi kebakaran pada akhir tahun 2023 di TPA Sarimukti yang mengakibatkan Bandung darurat sampah yang didorong oleh produksi gas metana dari gunungan sampah. Keputusan pemerintah Kabupaten Bandung Barat yang membatasi volume sampah yang diangkut dan mendorong masyarakat untuk mengelola sampahnya sendiri, menyebabkan kekagetan warga yang belum siap untuk melakukannya. Hal ini ditemui di wilayah RW 14 Cibaligo yang mengakibatkan sampah organik menumpuk dan menimbulkan bahaya kesehatan dan lingkungan. Hal ini harus segera diselesaikan, dengan menggugah kesadaran warga untuk mengelola sampahnya semenjak dari rumah. Kegiatan ini dilakukan dengan metode penyuluhan dan praktek pemilahan sampah serta pengomposan sampah organik, diikuti dengan pemantauan proses pengomposan sampah organik dalam komposter aerob yang menghasilkan dua produk utama, yaitu pupuk kompos dan pupuk organik cair (POC). Kegiatan ini berhasil meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat mengenai pemilahan dan pengolahan sampah organik, dan mengantarkan warga menghasilkan pupuk untuk keperluannya sendiri. Hasil kompos dan POC menunjukkan karakteristik yang baik, dengan meninjau aspek volume keterisian, kelembapan, tingkat keasaman, dan temperatur kompos, serta timbulan bau dan binatang yang muncul, juga aspek konsentrasi padatan terlarut, salinitas, konduktivitas, serta tingkat keasaman POC. Hasil ini diharapkan mendorong warga terus konsisten dalam mengelola sampahnya semenjak dari rumah sendiri, sehingga lingkungan menjadi bersih dan sehat.