Arsitektur Fungsionalisme, dengan semboyannya "form follows function", telah lama menjadi landasan dalam perancangan bangunan modern. Prinsip ini mengedepankan efisiensi dan kegunaan sebagai penentu utama bentuk arsitektur. Namun, sejauh mana penerapan prinsip fungsionalis tidak hanya menciptakan ruang yang efisien, tetapi juga membentuk pengalaman dan persepsi penggunanya? Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penerapan arsitektur fungsionalisme pada bangunan komersial Spazio di Surabaya, dengan fokus utama pada bagaimana relasi antarruang yang tercipta memengaruhi pengalaman pengguna (pengunjung dan pelaku usaha). Menggunakan metode deskriptif-kualitatif dengan pendekatan studi kasus, penelitian ini melakukan observasi spasial, pemetaan perilaku, dan wawancara singkat dengan pengguna bangunan. Analisis difokuskan pada tata letak vertikal dan horizontal fungsi komersial (retail, F&B, hiburan), sirkulasi, serta elemen arsitektural seperti void, jembatan penghubung, dan materialitas. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Spazio Surabaya menginterpretasikan fungsionalisme secara dinamis. Efisiensi fungsi terwujud melalui zonasi vertikal yang jelas dan sirkulasi yang terintegrasi. Lebih dari sekadar efisiensi, relasi spasial yang tercipta—terutama melalui void sentral yang menghubungkan seluruh lantai dan permainan bidang transparan—mampu menciptakan pengalaman visual yang interaktif, rasa keterbukaan, dan orientasi ruang yang kuat bagi pengguna. Hal ini menghasilkan sebuah "fungsionalisme pengalaman", di mana desain yang berpusat pada fungsi justru secara tidak langsung membentuk kualitas pengalaman spasial yang kaya, memfasilitasi interaksi sosial, dan memperkuat identitas bangunan sebagai ruang publik di Surabaya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penerapan fungsionalisme pada Spazio melampaui aspek tek semata dan berhasil menciptakan dialektika antara ruang, fungsi, dan pengalaman pengguna.