Sapi perah merupakan salah satu komoditas peternakan yang sangat penting dalam bidang peternakan di Indonesia karena merupakan sumber protein hewani yang sangat penting bagi manusia. Produksi dan reproduksi susu pada sapi perah merupakan dua aspek yang saling berkaitan yang dapat meningkatkan produktivitas ternak, karena kinerja reproduksi yang baik akan menyebabkan frekuensi beranak lebih sering dan selanjutnya produksi susu akan meningkat seiring berjalannya waktu. Penurunan kinerja reproduksi pada sapi perah dapat menjadi masalah serius yang menghambat produktivitas dan keberlanjutan usaha peternakan. Salah satu faktor yang dapat menyebabkan penurunan kinerja reproduksi sapi perah adalah penyakit infeksi seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja reproduksi sapi perah persilangan Friesian Holstein (PFH) pasca KLB PMK di UPTD BPTSP dan HPT Cikole Lembang. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis deskriptif. Objek penelitian adalah catatan reproduksi tahun 2019–2023. Variabel yang diamati dalam penelitian adalah Jarak Beranak, Pelayanan Per Konsepsi, Angka Konsepsi, Masa Pelayanan, dan Kawin Pertama Pasca Partum. Hasil penelitian ini menunjukkan dampak atau penurunan yang signifikan dalam kinerja reproduksi pada parameter Interval Beranak, Layanan Per Konsepsi, Tingkat Konsepsi, dan Kawin Pertama Pasca Partum (P<0,05), sedangkan parameter Periode Layanan tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan dalam kinerja reproduksi. Secara khusus, Tingkat Konsepsi menurun secara signifikan dari 92,30% sebelum PMK menjadi 63,54% setelah PMK (P=0,001). Sebagai kesimpulan, temuan ini menunjukkan bahwa wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) berdampak buruk pada efisiensi reproduksi sapi perah, terutama yang memengaruhi Interval Beranak, Layanan Per Konsepsi, Tingkat Konsepsi, dan Kawin Pertama Pasca Partum, tanpa dampak yang dapat diamati pada parameter Periode Layanan.