This Author published in this journals
All Journal Jurnal SOLMA
Feny Syah Putri
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Pendampingan Nagari Jaho Sebagai Kampung Wisata Religi Untuk Memperkuat Abs- Sbk Melalui Pendekatan Kearifan Lokal Berbasis Partisipatif, Berlanjutan, dan SDG's Kartika, Diana; Roza, Fielda; Listiana Sri Mulatsih; Bayu Haryanto; Rizki Almauli; Fadhlurrahman Isra; Athirah Khairani; Feny Syah Putri
Jurnal SOLMA Vol. 15 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka (UHAMKA Press)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/solma.v15i1.20892

Abstract

Pendahuluan: Nagari Jaho masuk salah satu desa wisata yang dikembangkan oleh Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Nagari Jaho memiliki potensi yang sangat besar untuk transformasi menjadi destinasi wisata dengan branding Kampung Wisata Nagari Jaho. Perlu ada pendekatan dengan pemberdayaan yang bersifat partisipatif dan berkelanjutan dengan memberikan pemahaman terhadap pengelolaan kepariwisataan kepada masyarakat. Permasalahan prioritas dalam pengembangan kepariwisataan terdiri dari dua masalah utama yaitu manajemen dan pemasaran kepariwisataaan. Manfaat pemberdayaan ini untuk memberikan pendampinan dan perencangan branding Nagari Jaho sebagai Kampung Wisata Religi sebagai upaya memperkuat penerapan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK) dengan menggali potensi yang dimiliki. Metode: Pemberdayaan ini menggunakan kombinasi pendekatan Participatory Learning and Action (PLA) dengan metode pelaksanaan HEI (Hospitality, Edukatif, Informatif) yang pesertanya berasal dari pemerintah daerah, lembaga adat dan kemasyarakatan, meliputi perangkat Nagari Jaho, Kerapatan Adat Nagari (KAN) Jaho, dan Kelompok Pemuda di Nagari Jaho). Hasil: pendampingan menunjukkan peningkatan kesadaran kolektif masyarakat terhadap pentingnya pelestarian tradisi religi, penguatan kapasitas pengelolaan wisata berbasis komunitas, serta terciptanya rencana aksi pengembangan destinasi wisata yang ramah lingkungan dan inklusif. Kesimpulan: pendampingan ini dapat menjadi model replikasi bagi nagari lain dalam mengembangkan wisata berbasis religi dan kearifan lokal secara berkelanjutan