Marwanta, Bambang
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ANALISIS DATA RESISTIVITY UNTUK MENENTUKAN POTENSI BENCANA TANAH LONGSOR DI KAMPUNG LEGOK HAYAM DESA GIRIMEKAR KECAMATAN CILENGKRANG KABUPATEN BANDUNG Marwanta, Bambang
Jurnal Alami : Jurnal Teknologi Reduksi Risiko Bencana Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1351.457 KB) | DOI: 10.29122/alami.v1i1.121

Abstract

ABSTRAKDesa Girimekar Kecamatan Cilengkrang kabupaten Bandung merupakan wilayah yang rawan longsor. Wilayah ini mempunyai ketinggian 800 mdpl ini merupakan morfologi perbukitan dengan kelerengan 10º hingga 40º.  Longsor di daerah tersebut sering terjadi pada waktu musim hujan. Untuk mengetahui diketahui profil bawah permukaan yang menjadi penyebab terjadinya gerakan tanah di wilayah tersebut, dilakukan investigasi dengan menggunakan pengukuran dengan resistivitymeter. Data resistivitas diolah dengan menggunakan RES2DINV (2D Resistivity Inversion) dan dimodelkan dalam  profil bawah permukaan  yang menggambarkan 2D lapisan permukaan tanah atau batuan dengan nilai resistivitas yang berbeda. Pengukuran resistivity dilakukan pada 7 line  pada lokasi yang mana sudah terjadi gerakan tanah. Dari hasil interpretasi data pemodelan maka diketahui pola perlapisan batuan di daerah telitian, dengan arah  gerakan tanah menuju ke arah barat. Batas lapisan lapuk dengan bidang gelincir relatif dalam, yaitu sekitar 20 meter. Lapisan lapuk diinterpretasikan dengan batuan pasir tufaan dan endapan gunung api terlapukkan, dengan resistivitas 10 – 20 ohm meter. Sedangkan bidang gelincirnya merupakan lempungan dengan resistivitas 100 – 200 ohm meter. Untuk memastikan jenis batuan yang tergambar dalam profil resistivity tersebut perlu dilakukan data pemboran atau interpretasi dari data geologi yang tersingkap di sekitar lokasi telitian. Kata kunci: Potensi Longsor, Girimekar, Resistivity, 2D 
DAMPAK BENCANA PADA REKLAMASI PANTAI UTARA JAKARTA Marwanta, Bambang
Jurnal ALAMI: Jurnal Air, Lahan, Lingkungan, dan Mitigasi Bencana Vol 8, No 2 (2003)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pantai Utara Jakarta yang membentang dari Kamal Muara sampai Marunda tak lama lagi akan berubah wajah menjadi daratan yang diisi dengan berbagai aktifitas yang mendukung perekonomian Jakarta. Reklamasi Pantura Jakarta ini bahkan direncanakan mengambil wilayah dari Kab. Bekasi timur sampai Kab. Tangerang. Kegiatan reklamasi yang direncanakan mulai tahun 2003 ini sedikit terhambat karena Kementrian Lingkungan Hidup menolak reklamasi pantura ini. Studi amdal memberikan hasil bahwa reklamasi pantura Jakarta memberikan dampak lingkungan yang sangat besar. Reklamasi pantura akan menghabiskan lahan seluas 2.700 ha, yang terbentang sepanjang 32 Km, dengan mengambil lebar dari bibir pantai ke arah laut sejauh 1,5 Km dan kedalaman maksimal delapan meter. Untuk reklamasi pantura tersebut dibutuhkan material sebanyak 330 juta m3. Untuk keperluan tersebut deposit pasir laut berdasarkan studi terdapat di Tanjung Burung, pulau Tidung, Tanjung Kait, Tanjung Pontang, pantai Cemara, pasir Putih, serta bekas pertambangan timah di pulau Bangka dan Belitung. Peruntukannya kawasan reklamasi dibagi dalam 3 zona: 1) Zona Barat untuk kawasan permukiman; 2) Zona Tengah untuk kawasan revitalisasi Sunda Kelapa, kawasan pusat niaga, serta kawasan rekreasi dan permukiman; 3) Zona Timur untuk kawasan Pelabuhan Tanjung Priok serta kawasan pergudangan, industri, dan pusat distribusi. Keuntungan ekonomis dari kegiatan tersebut harus juga memperhitungkan dampak bencana yang akan ditimbulkan. Minimal ada lima dampak yang akan muncul, yaitu dampak terhadap banjir di Jakarta, gangguan operasional beberapa proyek vital, potensi konflik dengan masyarakat, kerusakan ekosistem laut, serta memperluas potensi pencemaran ke arah perairan Pulau Seribu.