Penelitian ini membahas implementasi layanan telemedicine di Pakistan, khususnya di daerah pedesaan, yang dihadapkan pada tantangan aksesibilitas terhadap layanan kesehatan. Dengan latar belakang kurangnya fasilitas kesehatan dasar di pedesaan dan tingginya angka kematian bayi dan ibu, layanan telemedicine menjadi solusi yang menjanjikan. Penelitian ini mencoba menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kesediaan pasien untuk mengadopsi layanan telemedicine. Literatur terkait menunjukkan bahwa telemedicine dapat meningkatkan aksesibilitas fasilitas perawatan kesehatan, terutama di lingkungan pedesaan. Namun, resistensi pengguna masih menjadi hambatan utama yang perlu diatasi. Penelitian sebelumnya menyoroti peran faktor sosial dalam mengubah perilaku pengguna terhadap penerimaan teknologi baru. Penelitian ini mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan yang masih belum terjawab, seperti hambatan apa yang mempengaruhi niat pasien untuk menggunakan layanan telemedicine di negara berkembang seperti Pakistan dan sejauh mana masyarakat telah menerima dan memahami layanan tersebut. Penelitian ini dianggap penting untuk memahami resistensi pengguna dan mengelola faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan teknologi baru. Metodologi penelitian menggunakan model penerimaan layanan Telemedicine berdasarkan Technology Acceptance Model (TAM). Instrumen penelitian berupa kuesioner dengan skala Likert digunakan untuk mengumpulkan data dari pasien di rumah sakit dan perawatan rawat jalan. Analisis data menggunakan Partial Least Squares (PLS) untuk menguji dan memvalidasi model. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan baru dalam pengembangan literasi kecerdasan buatan, khususnya dalam konteks layanan telemedicine di Pakistan. Diharapkan juga dapat memberikan manfaat bagi pemerintah, pembuat kebijakan, dan penyedia layanan kesehatan dalam memahami faktor-faktor yang mempengaruhi kesuksesan implementasi layanan telemedicine di daerah pedesaan Pakistan.