Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Perakitan Mandiri Spektrofotometer Visible Sederhana: Potensi Aplikasinya Pada Penentuan Konsentrasi Larutan Tanto Budi Susilo; Achmad Ramadhanna'il Rasjava; Umi Baroroh Lili Utami; Arief Rahmad Maulana Akbar; Thresye Thresye
Jurnal Pengabdian ILUNG (Inovasi Lahan Basah Unggul) Vol 5, No 3 (2026)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/ilung.v5i3.16050

Abstract

Abstrak Perakitan mandiri spektrofotometer sederhana ini bertujuan untuk menyediakan alat yang dapat digunakan dalam pembelajaran praktikum penentuan konsentrasi larutan di laboratorium. Spektrofotometer merupakan alat yang digunakan untuk mengukur intensitas cahaya yang diserap oleh suatu larutan pada panjang gelombang tertentu. Dalam program kegiatan masyarakat ini, dilakukan perakitan alat spektrofotometer sederhana dengan komponen-komponen yang mudah didapatkan, seperti LED sebagai sumber cahaya, filter cahaya, kuvet, fotodioda sebagai detektor, dan voltmeter sebagai mikrokontroler untuk pengolahan data absorbansi. Alat ini dapat mengukur absorbansi larutan dan menentukan konsentrasi berdasarkan hukum Beer-Lambert. Dengan perakitan mandiri ini, diharapkan siswa/mahasiswa dapat memahami prinsip kerja spektrofotometri secara lebih mendalam, serta meningkatkan keterampilan praktikum dalam pengukuran konsentrasi larutan. Kegiatan ini telah berhasil membuat spektrofotometer visible sederhana dan telah diuji serapannya pada plastik transparan warna biru. Hasilnya menunjukkan tanggapan 17 responden sebagai berikut ini; sangat mengerti (10,8%), mengerti (62,7%), kurang mengerti (26,5%), dan tidak mengerti (0%). Sebagai tambahan informasi bahwa alat ini dapat digunakan dengan baik untuk kegiatan pembelajaran dengan akurasi yang cukup memadai. Perakitan alat ini memperkaya khazanah praktikum, diantaranya mahasiswa bukan hanya sebagai operator dan penguna, tetapi sebagai creator spektofotometer.Kata kunci: spektrofotometer; filter cahaya; voltmeter  
Penyuluhan Artifak Museum Lambung Mangkurat: Potensi De-Extinction Fosil Gajah Kalimantan Tanto Budi Susilo; rahmat yunus; Oni Soesanto; Imam Hindarto; Umi Baroroh Lili Utami; Muddatstsir Idris; Edi Mikrianto; Dindin Hidayatul Mursyidin
Jurnal Pengabdian ILUNG (Inovasi Lahan Basah Unggul) Vol 5, No 3 (2026)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/ilung.v5i3.16203

Abstract

Abstrak Museum bukan hanya tempat untuk koleksi artefak kebudayaan bangsa, tetapi juga tempat untuk artefak intelektual bangsa, atau tempat koleksi epistemologi intelektual bangsa. Sementara itu, ibu kandung kebudayaan adalah pendidikan. Museum Lambung Mangkurat adalah rumah bagi anak kandung artefak kebudayaan dan ibu kandung bagi pendidikan masyarakat Kalimantan ini. Nama Lambung Mangkurat sendiri, diambil dari putra seorang pedagang (kasta Waisya) keturunan etnis Keling, era kerajaan Mapapahit. PKM ini membahas temuan artefak bendawi (tangible), berupa fosil gajah kisaran 5000 tahun lalu. Fosil ini berperan strategis dalam projek pembangkitan spesies yang punah (de-extintion) pada masa depan. Pokok bahasan ini menjelaskan peristiwa sejarah tentang asal usul gajah kecil (hobbit elephant) yang ada di Kalimantan. Fosil gajah menjelaskan bahwa gajah Kalimantan adalah asli (indigenius) meski kolonial Inggris juga mendatangkan sebagai gajah introduser dari India. Program kreatifitas masyarakat (PKM) ini berupaya mengapresiasi terhadap temuan gajah Kalimantan di daerah Kabupaten Batola. Metode hermeneutika yang dielaborasi structural equation modelling (SEM) digunakan sebagai koleksi tanggapan responden generasi muda. Hasil evaluasi PKM ini adalah sebagai berikut; sangat mengerti (12,5%), mengerti (45%), kurang mengerti (30%) dan tidak mengerti (12,5%) terhadap 12 responden. Hasil PKM menyatakan bahwa generasi muda mengerti atas pentingnya temuan fosil gajah yang terhubung dengan perdagangan era kolonial Inggris di Kalimantan.Kata kunci: Museum; Lambung Mangkurat; fosil gajah