Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Dramatisasi dan Sensasionalisme Pemberitaan Kasus Pembacokan Mahasiswa Uin Suska Riau: Studi Perbandingan Detik.com dan Riau Pos dengan Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough Muharrina Harahap; Putri Cristina Pardede; Putri Wahyuni Sitohang; Retno Agustina Lumban Siantar; Reva Nova Lina Hutauruk; Tri Wahyuni br Tambunan
Kopula: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Vol. 8 No. 1 (2026): Maret
Publisher : Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/kopula.v8i1.9860

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh maraknya eksploitasi narasi kekerasan di media daring yang seringkali mengabaikan etika jurnalistik demi kepentingan komersial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan membandingkan representasi dramatisasi serta sensasionalisme dalam pemberitaan kasus pembacokan mahasiswi UIN Suska Riau pada media nasional (Detik.com) dan media lokal (Riau Pos). Menggunakan paradigma kritis dengan metode Analisis Wacana Kritis (AWK) Norman Fairclough, penelitian ini membedah wacana melalui tiga dimensi utama: analisis teks (mikro), praktik diskursif (meso), dan praktik sosiokultural (makro). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Detik.com menggunakan strategi linguistik agresif dan hiperbolis untuk mengejar viralitas secara nasional, sementara Riau Pos mengeksploitasi kedekatan emosional masyarakat lokal dengan narasi yang bersifat lebih spekulatif. Kedua media tersebut cenderung menormalisasi kekerasan berbasis gender melalui penggunaan bingkai "cinta ditolak", yang pada akhirnya mengaburkan urgensi isu femisida di lingkungan akademik. Analisis ini juga mengungkap adanya ketidakhadiran suara korban sebagai subjek yang berdaulat dalam teks, di mana media jauh lebih mengutamakan narasi institusional dari pihak kepolisian. Temuan ini menegaskan bahwa komodifikasi tragedi kekerasan oleh media massa sangat dipengaruhi oleh struktur pasar digital dan keberadaan ideologi patriarki yang masih sangat dominan di Indonesia. 
Menguak "Kebutaan Mitigasi" di Pantai Serambi Deli:Analisis Ekolinguistik dan Etnosains Terhadap Kepunahan Istilah Lokal Penanda Alam Nazwa Annisa; Adira Cahya; Putri Wahyuni Sitohang; Agnes Falensia Lumban Gaol; Nurita Rahmani; M. Oky Ferdian Gafari
Jejak digital: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 2 No. 4 (2026): JUNI-JULI
Publisher : INDO PUBLISHING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/m81tgb70

Abstract

Rapid coastal environmental changes have placed local communities vulnerable to various ecological risks. This study aims to explore the environmental risk perceptions of coastal communities in the Serambi Deli Coast area through the lens of ethnoscience and language analysis with an ecolinguistic approach. The method used was qualitative-ethnographic, including participant observation and in-depth interviews with community leaders selected purposively based on their knowledge and experience of the coastal environment. The study found three main findings. First, there is a phenomenon of Ecological Language Loss in the general coastal community, where local vocabulary for interpreting natural signs has disappeared due to cultural shifts and modernization. Second, this ecological knowledge is not completely extinct, but rather stored exclusively in the linguistic system of the Orang Laut community, which is highly dependent on the sea but isolated from the wider coastal community. Third, a survey of the younger generation revealed a very high level of ignorance of local terms for natural markers, indicating a Disruption of Intergenerational Knowledge Transmission, resulting in the younger generation experiencing "mitigation blindness" that potentially increases their vulnerability to disasters. This study concludes that local community languages ​​are living archives of ecological risk knowledge that is now on the verge of extinction. These findings underscore the urgency of documenting and revitalizing indigenous knowledge as an integral part of participatory and contextual disaster mitigation policies.