Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hadith Perspective on Cancel Culture and the Tendency to Judge on Social Media Siti Dzurrotul Ainy; Fathoniz Zakka
JIA (Jurnal Ilmu Agama) Vol 25 No 2 (2024): Jurnal Ilmu Agama : Mengkaji Doktrin, Pemikiran, dan Fenomena Agama
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jia.v25i2.24841

Abstract

Fenomena cancel culture di media sosial mendorong masyarakat untuk cepat menghakimi dan memboikot individu tanpa proses klarifikasi yang memadai. Tentu, hal ini bertentangan dengan ajaran Islam terkait keadilan dan verifikasi informasi (tabayyun). Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji cancel culture dari perspektif hadis, khususnya dalam konteks etika penghakiman di era digital. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis konten terhadap beberapa hadis, penelitian ini menemukan bahwa ajaran Nabi menganjurkan kehati-hatian dalam menyebarkan informasi dan larangan melakukan penghakiman tanpa dasar yang jelas. Hadis-hadis tersebut mengajarkan bahwa seorang Muslim harus berusaha memahami konteks dan fakta secara menyeluruh sebelum memberikan penilaian atau bertindak. Analisis menunjukkan bahwa tindakan dalam cancel culture seringkali melanggar prinsip-prinsip ini, dengan mengedepankan prasangka, emosi, dan tekanan sosial dibandingkan penilaian yang adil dan bijaksana, sebagaimana dianjurkan oleh hadis. Penelitian ini berkontribusi memberikan panduan bagi masyarakat untuk menggunakan media sosial dengan bijak sesuai dengan ajaran Islam, serta membantu pihak berwenang dan lembaga keagamaan dalam merumuskan pedoman etika penggunaan media sosial di tengah maraknya fenomena cancel culture.
Hadith, Salafism, and Discrimination Against Women on Social Media: Framing Analysis of the Hadith “Women Lack Reason and Religion” from the Perspective of Mubadalah in the @thequran_path Account Fristika Maulida Aminatuz Zuhria; Budi Ichwayudi; Fathoniz Zakka
JOM Vol 7 No 3 (2026): Indonesian Journal of Humanities and Social Sciences, September
Publisher : Universitas Islam Tribakti Lirboyo Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33367/ijhss.v7i3.9872

Abstract

This study examines the use and framing of the hadith concerning “women’s deficiency in reason and religion” in digital religious discourse, focusing on the Instagram account @thequran_path as an example of social media based da’wa. The study employs a qualitative approach and document analysis to examine selected Instagram content. It combines Robert M. Entman’s framing analysis with Faqihuddin Abdul Kodir’s mubadalah methodology to examine how the hadith is presented and interpreted from a relational and gender just perspective. The findings show that the expression “deficiency in reason” does not necessarily indicate an inherent intellectual deficiency in women but can be understood in relation to the specific social and religious context of the hadith. The mubadalah approach also highlights limitations in literal and defensive interpretations that focus on textual and fiqh based explanations without sufficiently considering their social implications. Furthermore, the framing analysis shows that @thequran_path presents criticism of gender related interpretations primarily as an issue of individual perception rather than addressing the structural dimensions of religious discourse in digital spaces. These findings indicate that the interpretation and digital framing of the hadith shape perceptions of women and gender relations. A contextual and relational reading is therefore needed to prevent the reproduction of gender inequality in digital religious discourse.