Ketaatan kepada pemerintah merupakan bagian dari tanggung jawab setiap warga negara, termasuk orang percaya. Dalam konteks masyarakat modern yang menghadapi meningkatnya kasus penyalahgunaan wewenang dan pelanggaran etika pemerintahan, kajian teologis terhadap Roma 13:1–7 menjadi penting untuk memahami dasar iman bagi sikap taat tersebut. Penelitian ini bertujuan menjelaskan prinsip-prinsip Alkitabiah mengenai ketaatan kepada pemerintah serta implikasinya bagi orang percaya masa kini. Metode yang digunakan adalah tinjauan kepustakaan, dengan menelaah literatur teologi, artikel jurnal, dan sumber-sumber eksegetis terkait. Pendekatan hermeneutik diterapkan untuk menafsirkan teks Roma 13:1–7 dan menemukan makna teologisnya dalam konteks kekinian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Paulus menegaskan pemerintah sebagai pihak yang ditetapkan Allah untuk menegakkan ketertiban dan keadilan. Ketaatan kepada pemerintah tidak hanya diwujudkan melalui kepatuhan hukum, tetapi juga melalui sikap batin yang benar, hati nurani yang tulus, penghormatan kepada otoritas, dan kesediaan membayar pajak sebagai bentuk tanggung jawab moral dan spiritual. Pemerintah dipandang sebagai pelayan Allah yang memiliki mandat menegakkan hukum bagi kebaikan masyarakat. Kesimpulannya, ketaatan orang percaya kepada pemerintah merupakan ekspresi iman dan bagian dari ketaatan kepada Allah. Sikap ini menuntut integritas, kasih, dan kesediaan menghormati hukum, sekaligus menjadi teladan dalam kehidupan berbangsa. Pemahaman yang benar terhadap Roma 13:1–7 membantu orang percaya menjalani kehidupan kenegaraan secara bertanggung jawab dan selaras dengan kehendak Allah.