Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PERKEMBANGAN TANAH DARI BAHAN VULKAN PADATOPOSEKUEN WILAYAH BANGLI SELATAN, KABUPATEN BANGLI Nuranita Naningsi
Jurnal Ilmiah Vastuwidya Vol. 2 No. 1 (2019): Jurnal Ilmiah Vastuwidya
Publisher : Universitas Mahendradatta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian “Perkembangan Tanah dari Bahan Vulkan pada Toposekuen wilayah Bangli Bagian Selatan” ini bertujuan untuk mengetahui : (1) Mengkaji proses pembentukan dan perkembangan tanah yang terbentuk dari bahan vulkan pada banjar topografi diwiayah Bangli selatan, Kabupten Bangli, (2) Memperoleh data karakteristik tanah diwilayah Bangli Selatan Kabupaten Bangli, (3) Mengetahui potensi lahan untuk pengelolaan pertanian di wilayah Bangli Selatan, Kabupaten Bangli. Penelitian ini dilaksanakan dengan metode survai tanah, analisis Laboratorium, dan ditunjang dengan data-data sekunder. Tiga profil yang mewakili Banjar Topografi dipilih berdasarkan ketinggian tempat yang berbeda, profil (N-1) dengan ketinggian tempat 850 m dpl, profil (N-2) ketinggian tempat 540 m dpl, dan profil (N-1) ketinggian tempat 200 m dpl. Ketiga profil ini mempunyai kiblat lereng yang sama yaitu kiblat lereng selatan. Bahan induk yang terbentuk di daerah penelitian berasal dari bahan vulkanik, yaitu tufa vulkan dan endapan lahar dari Buyan, Beratan, dan Batur Purba. Daerah penelitian termasuk dalam tipe iklim A (sangat basah). Proses genesis tanah yang terjadi didaerah penelitian adalah untuk lereng atas mengalami proses erosi, lereng tengah mengalami proses transportasi, dan lereng bawah mengalami proses deposisi. Ketiga profil pewakil telah mengalami proses horisonisai. Tingkat perkembangan tanah berada pada tahap virile. Karakteristik tanah agak masam, kapasitas tukar kation rendah sampai sedang, kejenuhan basa rendah sampai sedang, bahan organik sangat rendah sampai rendah, tekstur pasir berlempung sampai lempung. Jenis mineral yang terdapat pada ketiga profil didominasi oleh mineral haloisit. Berdasarkan hasil penelitian mempengaruhi sifat-sifat tanah yang terbentuk. Pada lereng atas terbentuk solum sangat dalam pada kedalaman > 177 cm, lereng tengah terbentuk solum yang dalam pada kedalaman > 153 cm dan kaki lereng terbentuk solum yang dangkal pada kedalaman > 137 cm. Wilayah Bangli Bagian Selatan berpotensi dalam mendukung pertumbuhan tanaman dan meningkatkan produksi pertanian.
PENGGUNAAN MOL HIJAU PADA TANAMAN KAKAO DI DESADANGINTUKADAYA, KECAMATAN JEMBRANA, KABUPATENJEMBRANA Nuranita Naningsi
Jurnal Ilmiah Vastuwidya Vol. 2 No. 2 (2019): Jurnal Ilmiah Vastuwidya
Publisher : Universitas Mahendradatta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan mol hijau untuk tanaman kakao (Theobroma cacao L) Kakao merupakan tanaman yang memiliki banyak manfaat. Produksi biji kakao sering mengalami penurunan. Salah satu faktor penyebabnya adalah serangan hama kutu putih (Planococcus minor). Serangga ini menghisap buah yang masih kecil sehingga buah akan mengering dan pertumbuhan buah terhambat. Penggunaan insektisida sintetik yang tidak tepat akan berdampak buruk. Larutan MOL (Mikroorganisme Lokal) adalah larutan hasil fermentasi yang dibuat dari bahan-bahan yang ada disekitar kita. Penelitian ini bertujuan memberikan pemahaman kepada petani tentang tujuan, manfaat dan mekanisme penggunaan mol hijau untuk mengurangi dampak penggunaan pestisida kimia. Mol hijau sangat efektif dalam mematikan kutu putih pada tanaman kakao. Penelitian ini dilaksanakan di desa dangin tukadaya Kecamatan Jembrana, kabupaten Jembrana.
KAJIAN PENGELOLAAN LIMBAH PADAT PETERNAKAN SAPISIMANTRI GAPOKTAN SAPI BULIT DI DESA DANGINTUKADAYA, KECAMATAN JEMBRANA, KABUPATENJEMBRANA Nuranita Naningsi
Jurnal Ilmiah Vastuwidya Vol. 1 No. 1 (2018): Jurnal Ilmiah Vastuwidya
Publisher : Universitas Mahendradatta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kabupaten Jembrana Sebagai adalah satu dari sembilan kabupaten di Propinsi Bali, yang terletak di belahan barat pulau Bali memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut: a) sebelah utara dengan Kabupaten Buleleng, b) sebelah Timur, Kabupaten Tabanan, c) sebelah selatan, Samudra Indonesia, dan d) sebelah barat adalah Selat Bali. Posisi membentang dari 8o 09’30” sampai 8o 28’02” lintang selatan, dan 114o 25’53” sampai 114o 56’38” bujur timur, dengan topografi Kabupaten Jembrana yang memiliki luas wilayah mencapai 84.180 hektar tersebut bergelombang dan berbukit di bagian utara, dan landai di bagian selatan. Rata-rata ketinggian wilayah Kabupaten Jembrana mencapai 306,84 meter di atas permukaan laut dengan titik tertinggi hanya 700 meter. Kabupaten Jembrana memiliki pantai sepanjang 78 km dan dilalui 37 sungai dengan panjang keseluruhan mencapai 495,8 kilometer. Simantri atau Sistem Pertanian Terintegrasi merupakan sebuah program Pemerintah Provinsi Bali yang mengintegrasikan kegiatan pertanian dan peternakan. Pengelolaan limbah padat di peternakan sapi Simantri Kecamatan Jembrana yakni pengolahan biogas dan pembuatan kompos belum berlangsung optimal. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan laju komposisi limbah padat peternakan sapi Simantri, mengevaluasi pengelolaan limbah padat dan menentukan strategi penerapan teknologi pengolahan biogas dan kompos. Pada penelitian ini dilakukan pengklasifikasian berdasarkan peternakan yang pengolahan biogasnya masih beroperasi, pengolahan komposnya masih beroperasi dan peternakan yang pengolahan biogas dan komposnya beroperasi. Sehingga diperoleh teknologi pengelolaan limbah padat berbasis 2R yang dapat diterapkan. Total laju timbulan limbah padat peternakan sapi Simantri Gapoktan sapi bulit, Kecamatan Jembrana. Peternakan Sapi Simantri sapi Simantri Gapoktan sapi bulit Kecamatan Jembrana yang masih melakukan pengelolaan limbah padat dengan melakukan pengolahan biogas dan pembuatan kompos dengan intensif dan melakukan inovasi dalam teknologi pengolahan biogas dan kompos.
STUDY OF LAND USE CHANGE FROM 1997 TO 2014 USINGLANDSAT DATA IN BANGLI REGENCY Nuranita naningsi
Jurnal Ilmiah Vastuwidya Vol. 1 No. 2 (2018): Jurnal Ilmiah Vastuwidya
Publisher : Universitas Mahendradatta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kabupaten bangli adalah merupakan kabupaten satu-satunya diwilayah kabupaten di Provinsi Bali yang tidak memiliki pantai dengan luas 52.081 Ha atau 9,24% dari luas wilayah Provinsi Bali (563.666 Ha). Pertumbuhan dan perkembangan wilayah di kabupaten Bangli berdampak positif terhadap perekonomian masyarakat namun juga berdampak negatif terhadap lingkungan. Alih fungsi lahan menjadi salah satu isu negatif dari perkembangan wilayah Kabupaten Bangli. Penelitian ini bermaksud untuk menghitung besarnya perubahan fungsi lahan yang terjadi dalam kurun waktu 17 tahun (1997 – 2014) di kabupaten Bangli. Citra Landsat 5 TM, Landsat 7 ETM+ dan Landsat 8 OLI/TIRS digunakan dalam penelitian ini untuk mengetahui peta penggunaan lahan. Peta penggunaan lahan diperoleh melalui proses klasifikasi citra dengan menggunakan metode supervised kemudian diverifikasi menggunakan data lapangan. Teknik klasifikasi supervised terbagi menjadi 9 klas yaitu danau, lahan kosong, hutan, pemukiman, semak belukar, sawah irigasi, sawah tadah hujan, tegalan, dan perkebunan. Hasil analisis memperlihatkan perubahan penggunaan lahan pada tahun 1997 - 2003 yakni danau bertambah 3,60(0,00%), pemukiman (2.777,00 ha (5,32%)), dan tegalan bertambah (1.866,80 ha (35,84%)) sedangkan lahan kosong (-99,00 ha (-0,19%)), hutan (-223,90 ha (-4,29%)), semak belukar (-629,10 ha (-1,21%)), sawah irigasi (-679,50 ha (-1,30%)), sawah tadah hujan (-515,70 ha (-0,99%)) dan tegalan (-17.287,20 ha (-33,19%)) cenderung berkurang. Ditahun 2003 - 2014 yakni yang mengalami perubahan besar adalah perkebunan (918,90 ha (1,76%)), kemudian pemukiman (569,70 ha (1,09%)), lahan kosong (36,00 ha (0,07%)), semak belukar (91,80 ha (0,18%)), dan sawah tadah hujan (502,20 ha (0,96%)), sedangkan yang berkurang danau (-6,30 ha (-0,01%)), hutan (-0,60 ha (0,00%)), sawah irigasi (-540,00 ha (-1,04%)), dan tegalan (-1.571,70 ha (-3,02%)). Hasil prediksi ini diperoleh dengan tingkat akurasi sebesar 89,45%. Hasil analisis penggunaan menunjukkan luas perkebunan khususnya pada wilayah kabupaten bangli sangat tinggi, akan tetapi meningkatnya pengembangan sarana penunjang pariwisata yang sangat pesat mempengaruhi luas penggunaan lahan, kemudian areal pemukiman mengalami peningkatan luas yang cukup tinggi, khususnya diwilayah kecamatan kintamani.