Andiani Nazhara
Universitas Majalengka

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Representasi Resistensi Identitas dan Sistem Kekuasaan dalam Film The Maze Runner (2014): Analisis Semiotika Charles Sanders Peirce Andiani Nazhara
Jurnal Mahasiswa Sosial Humaniora Vol 2 No 2 (2025): Vol 2 No 2 2025
Publisher : LP2MI Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/jumash.v2i2.14326

Abstract

Film sebagai media komunikasi tidak hanya berperan sebagai hiburan, tetapi juga sebagai representasi realitas sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana resistensi identitas dan sistem kekuasaan direpresentasikan dalam film The Maze Runner (2014). Fokus penelitian diarahkan pada bagaimana individu dalam film menghadapi pembentukan identitas yang dipaksakan oleh sistem kekuasaan yang represif. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis semiotika Charles Sanders Peirce, dengan pendekatan kualitatif deskriptif. serta didukung oleh teori kekuasaan Michel Foucault untuk menafsirkan wacana kekuasaan modern yang bekerja melalui pengawasan dan pengendalian identitas. Data diperoleh melalui observasi terhadap adegan-adegan dalam film yang berkaitan dengan tema identitas dan kekuasaan, kemudian dianalisis berdasarkan komponen sign, object, dan interpretant. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film The Maze Runner (2014) merepresentasikan sistem kekuasaan melalui simbol-simbol visual seperti labirin, The Box, Grievers, ruang kontrol WCKD, serta dinamika sosial antar karakter. Sistem kekuasaan digambarkan sebagai mekanisme yang mengontrol individu melalui penghapusan identitas, pengawasan, serta penanaman rasa takut. Di sisi lain, karakter Thomas memperlihatkan bentuk resistensi identitas, di mana ia berusaha menolak identitas yang dipaksakan WCKD, mempertanyakan sistem, dan berupaya keluar dari kontrol kekuasaan tersebut. Penelitian ini menyimpulkan bahwa film The Maze Runner (2014) tidak hanya menyajikan narasi petualangan, tetapi juga mengkritik dinamika kekuasaan dalam pembentukan identitas individu. Disarankan agar penelitian selanjutnya mengkaji representasi resistensi identitas dalam film lain dengan pendekatan semiotika yang berbeda sebagai pembanding.