Produksi plastik global terus meningkat sementara tingkat daur ulang masih rendah, khususnya untuk plastik campuran, sehingga menimbulkan tekanan lingkungan. Di Indonesia, harga produk plastik umumnya hanya mencerminkan biaya produksi privat dan belum menginternalisasi biaya sistemik pada tahap hilir, seperti pengumpulan, pemilahan, dan daur ulang. Penelitian ini mengadaptasi kerangka Input–Output (I–O) Leontief untuk memodelkan sistem daur ulang plastik campuran sebagai sistem sirkular tertutup yang terdiri atas enam sektor: produksi resin virgin, manufaktur produk, penggunaan dan pengumpulan, pemilahan dan pencucian, daur ulang dan peletisasi, serta manufaktur berbasis pelet daur ulang. Dengan menetapkan permintaan akhir 1 kg produk berbasis daur ulang, invers Leontief digunakan untuk menghitung kebutuhan total output setiap sektor dan mengagregasikan biaya operasional (OPEX) serta belanja modal (CAPEX) di seluruh sistem. Hasil menunjukkan bahwa untuk menghasilkan 1 kg produk daur ulang diperlukan output kumulatif sebesar 0,695 kg resin virgin, 1,391 kg aktivitas manufaktur, dan 1,545 kg aktivitas penggunaan–pengumpulan akibat kehilangan material dan umpan balik sirkular. Total biaya pemulihan sistem dihitung sebesar Rp 34.028/kg produk, lebih tinggi dibandingkan harga pasar berbasis akuntansi linier sebesar Rp 31.350/kg. Selisih biaya sebesar Rp 2.678/kg merepresentasikan biaya tidak langsung yang selama ini tidak terinternalisasi. Berdasarkan hasil tersebut, penelitian ini mengestimasi besaran pajak Pigouvian atas plastik virgin yang diperlukan untuk menyetarakan harga pasar dengan biaya sistemik penuh. Temuan ini menunjukkan bahwa pendekatan I–O memberikan dasar kuantitatif yang transparan untuk perancangan kebijakan ekonomi sirkular, termasuk pajak plastik virgin, subsidi daur ulang, dan skema tanggung jawab produsen, guna mempercepat pengelolaan plastik yang berkelanjutan di Indonesia.