Hairani Lubis
Department Psychology, Universitas Mulawarman

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Emotion Regulation in Mindfulness-Based Interventions for Middle School Students: A Bibliometric Analysis Hairani Lubis; Diah Rahayu
About the Journal Vol 15, No 2 (2026): Psikostudia : Jurnal Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v15i2.22889

Abstract

Attention to the psychological well-being and academic achievement of high school students is increasing as the academic and emotional demands faced by students are high. Emotion regulation is seen as a key factor that affects learning adaptation, cognitive function, and academic achievement, so mindfulness emerges as a promising intervention in educational contexts. This study aims to systematically analyze the impact of mindfulness interventions on the regulation of emotions and academic achievement of high school students through a meta-analysis approach. The research method uses meta-analysis of experimental and quasi-experimental studies published in the 2010–2023 period, with the article selection process following the stages of identification, screening, and eligibility until 30 articles that meet the inclusion and methodological quality criteria are obtained. The results of the study showed that mindfulness interventions had a consistent positive effect on improving students' emotional regulation and improving academic achievement, both directly and through mediation mechanisms such as academic self-efficacy, academic buoyancy, mind-wandering reduction, and self-regulation. The findings also suggest that interventions implemented in a structured, sustainable manner, and supported by trained facilitators tend to produce stronger effects. The implications of this study confirm that the integration of evidence-based mindfulness interventions into the school environment has the potential to support the holistic development of students' emotional well-being and academic achievement, as well as the basis for the formulation of educational policies and practices that are more responsive to students' psychological needs.Perhatian terhadap kesejahteraan psikologis dan prestasi akademik siswa sekolah menengah atas semakin meningkat seiring dengan tingginya tuntutan akademik dan emosional yang mereka hadapi. Regulasi emosi dipandang sebagai faktor kunci yang memengaruhi adaptasi belajar, fungsi kognitif, dan pencapaian akademik, sehingga mindfulness muncul sebagai intervensi yang menjanjikan dalam konteks pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara sistematis dampak intervensi mindfulness terhadap regulasi emosi dan prestasi akademik siswa melalui pendekatan meta-analisis terhadap studi eksperimental dan kuasi-eksperimental yang dipublikasikan pada periode 2010–2023. Proses seleksi artikel dilakukan melalui tahap identifikasi, penyaringan, dan kelayakan hingga diperoleh 30 artikel yang memenuhi kriteria inklusi dan kualitas metodologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa intervensi mindfulness memiliki efek positif yang konsisten dalam meningkatkan regulasi emosi dan prestasi akademik, baik secara langsung maupun melalui mekanisme mediasi seperti efikasi diri akademik, daya lenting akademik (academic buoyancy), pengurangan mind-wandering, dan regulasi diri. Temuan juga menunjukkan bahwa intervensi yang dilaksanakan secara terstruktur, berkelanjutan, serta didukung oleh fasilitator terlatih cenderung menghasilkan efek yang lebih kuat. Implikasi penelitian ini menegaskan bahwa integrasi intervensi mindfulness berbasis bukti ke dalam lingkungan sekolah berpotensi mendukung perkembangan holistik kesejahteraan emosional dan prestasi akademik siswa, sekaligus menjadi dasar dalam perumusan kebijakan dan praktik pendidikan yang lebih responsif terhadap kebutuhan psikologis siswa.
Acculturation and Mental Health Across Immigrant, Refugee, and International Student Populations: A Bibliometric–Systematic Review Alfiesyahrianta Habibie; Hairani Lubis; Aulia Suhesty; Nanik Handayani; Rika Aulia Sari
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 14, No 3 (2026): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v14i3.27338

Abstract

Acculturation research has grown from a niche interest within cross-cultural psychology into a recurring reference point for clinicians and educators working with mobile populations. This review combines bibliometric mapping with a systematic synthesis of studies linking acculturation to mental health outcomes among immigrants, refugees, ethnic minorities, and international students. A Scopus search covering 2016–2026 yielded 65 records; after we screened these against PICo eligibility criteria, 49 empirical studies remained for analysis. Publication output rose sharply after 2023, with the United States anchoring nearly two-thirds of the corpus and Cultural Diversity and Ethnic Minority Psychology serving as the field's most frequent outlet. Keyword co-occurrence patterns cluster around three recurring mechanisms: acculturative stress as a proximal risk factor for depressive and anxious symptoms, ethnic or bicultural identity integration as a buffering resource, and discrimination as a contextual amplifier that interacts with both. Findings further show that outcomes for the same acculturation orientation diverge by generational status, migration circumstance (voluntary versus forced), and host-society receptiveness, indicating that no single acculturation strategy is uniformly protective. Organizations serving immigrant-origin populations, from universities to mental health services, should treat acculturation as a multidimensional and context-dependent process rather than a single score to be optimized.Penelitian akulturasi telah berkembang dari minat khusus dalam psikologi lintas budaya menjadi titik rujukan berulang bagi klinisi dan pendidik yang bekerja dengan populasi mobil. Tinjauan ini menggabungkan pemetaan bibliometrik dengan sintesis sistematis atas studi-studi yang mengaitkan akulturasi dengan luaran kesehatan mental pada imigran, pengungsi, minoritas etnis, dan mahasiswa internasional. Pencarian Scopus yang mencakup 2016–2026 menghasilkan 65 rekaman; setelah kami menyaringnya menggunakan kriteria kelayakan PICo, tersisa 49 studi empiris untuk dianalisis. Jumlah publikasi meningkat pesat setelah 2023, dengan Amerika Serikat menjadi pusat hampir dua pertiga korpus dan Cultural Diversity and Ethnic Minority Psychology sebagai outlet paling sering di bidang ini. Pola ko-occurence kata kunci mengelompok pada tiga mekanisme yang berulang: stres akulturatif sebagai faktor risiko proksimal untuk gejala depresi dan kecemasan, integrasi identitas etnis atau bikultural sebagai sumber daya penyangga, dan diskriminasi sebagai penguat kontekstual yang berinteraksi dengan keduanya. Temuan lebih lanjut menunjukkan bahwa luaran untuk orientasi akulturasi yang sama dapat berbeda berdasarkan status generasi, kondisi migrasi (sukarela versus terpaksa), dan keterbukaan masyarakat penerima, yang mengindikasikan bahwa tidak ada satu strategi akulturasi yang secara universal protektif. Organisasi yang melayani populasi dengan latar belakang imigran, mulai dari universitas hingga layanan kesehatan jiwa, seharusnya memperlakukan akulturasi sebagai proses multidimensional dan bergantung konteks, bukan sebagai satu angka yang harus dioptimalkan.
Acculturation and Mental Health Across Immigrant, Refugee, and International Student Populations: A Bibliometric–Systematic Review Alfiesyahrianta Habibie; Hairani Lubis; Aulia Suhesty; Nanik Handayani; Rika Aulia Sari
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol. 14 No. 3 (2026): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v14i3.27338

Abstract

Acculturation research has grown from a niche interest within cross-cultural psychology into a recurring reference point for clinicians and educators working with mobile populations. This review combines bibliometric mapping with a systematic synthesis of studies linking acculturation to mental health outcomes among immigrants, refugees, ethnic minorities, and international students. A Scopus search covering 2016–2026 yielded 65 records; after we screened these against PICo eligibility criteria, 49 empirical studies remained for analysis. Publication output rose sharply after 2023, with the United States anchoring nearly two-thirds of the corpus and Cultural Diversity and Ethnic Minority Psychology serving as the field's most frequent outlet. Keyword co-occurrence patterns cluster around three recurring mechanisms: acculturative stress as a proximal risk factor for depressive and anxious symptoms, ethnic or bicultural identity integration as a buffering resource, and discrimination as a contextual amplifier that interacts with both. Findings further show that outcomes for the same acculturation orientation diverge by generational status, migration circumstance (voluntary versus forced), and host-society receptiveness, indicating that no single acculturation strategy is uniformly protective. Organizations serving immigrant-origin populations, from universities to mental health services, should treat acculturation as a multidimensional and context-dependent process rather than a single score to be optimized.Penelitian akulturasi telah berkembang dari minat khusus dalam psikologi lintas budaya menjadi titik rujukan berulang bagi klinisi dan pendidik yang bekerja dengan populasi mobil. Tinjauan ini menggabungkan pemetaan bibliometrik dengan sintesis sistematis atas studi-studi yang mengaitkan akulturasi dengan luaran kesehatan mental pada imigran, pengungsi, minoritas etnis, dan mahasiswa internasional. Pencarian Scopus yang mencakup 2016–2026 menghasilkan 65 rekaman; setelah kami menyaringnya menggunakan kriteria kelayakan PICo, tersisa 49 studi empiris untuk dianalisis. Jumlah publikasi meningkat pesat setelah 2023, dengan Amerika Serikat menjadi pusat hampir dua pertiga korpus dan Cultural Diversity and Ethnic Minority Psychology sebagai outlet paling sering di bidang ini. Pola ko-occurence kata kunci mengelompok pada tiga mekanisme yang berulang: stres akulturatif sebagai faktor risiko proksimal untuk gejala depresi dan kecemasan, integrasi identitas etnis atau bikultural sebagai sumber daya penyangga, dan diskriminasi sebagai penguat kontekstual yang berinteraksi dengan keduanya. Temuan lebih lanjut menunjukkan bahwa luaran untuk orientasi akulturasi yang sama dapat berbeda berdasarkan status generasi, kondisi migrasi (sukarela versus terpaksa), dan keterbukaan masyarakat penerima, yang mengindikasikan bahwa tidak ada satu strategi akulturasi yang secara universal protektif. Organisasi yang melayani populasi dengan latar belakang imigran, mulai dari universitas hingga layanan kesehatan jiwa, seharusnya memperlakukan akulturasi sebagai proses multidimensional dan bergantung konteks, bukan sebagai satu angka yang harus dioptimalkan.