Adinda Maghfirah
Diponegoro University

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Sikap Tempo.co terhadap Jokowi Pasca Reshuffle Kabinet Merah Putih: Analisis Wacana Kritis Tabita Eka Ayu Sofia; Nurhayati Nurhayati; Adinda Maghfirah
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 2 (2026): On Proses
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/2w1ccz60

Abstract

Penelitian ini menganalisis wacana media daring Tempo.co dalam membingkai Joko Widodo (Jokowi) pasca-jabatannya sebagai presiden melalui Analisis Wacana Kritis (AWK) dengan teori Teun A. van Dijk (1988). Fokus penelitian ini adalah membongkar bagaimana struktur teks, kognisi sosial, dan konteks sosial digunakan untuk mereproduksi ideologi kritis terhadap politik dinasti dan upaya Jokowi dalam mempertahankan kekuasaannya pasca pemecatannya dari PDIP dan reshuffle Kabinet Merah Putih. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik analisis data tiga dimensi Van Dijk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara makrostruktur, ditemukan tema sentral "Pergeseran Kekuasaan dari Solo ke Hambalang" yang mengonstruksi transisi kekuasaan sebagai proses eliminasi pengaruh aktor lama. Pada tingkat mikrostruktur, penggunaan diksi delegitimasi seperti “terlempar”, “tak dianggap”, dan “orang titipan”, serta metafora secara efektif membentuk citra Jokowi sebagai figur yang mengalami pelemahan kekuasaan. Analisis kognisi sosial mengungkap bahwa media memanfaatkan pengetahuan bersama (shared knowledge) masyarakat mengenai politik keluarga Jokowi. Hal ini berfungsi untuk menunjukkan bahwa manuver politik subjek adalah tindakan yang tidak memiliki legitimasi moral. Secara kontekstual, Tempo.co memposisikan diri sebagai agen kontrol sosial yang kritis terhadap upaya pelanggengan kekuasaan non-institusional. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Tempo.co menjalankan peran sebagai agen kontrol sosial yang menggunakan kekuasaan diskursif untuk memastikan bahwa personalisasi kekuasaan tidak melampaui batas demokrasi. Kebaruan penelitian ini terletak pada fokus analisisnya pada fase pasca-kekuasaan, yang membuktikan bahwa reproduksi ideologi dan delegitimasi aktor politik tetap bekerja secara intensif meskipun otoritas formal telah berakhir.