Kepemimpinan yang efektif menjadi faktor kunci dalam mendorong kinerja organisasi, termasuk di lingkungan perguruan tinggi. Institusi pendidikan tinggi berupaya mengembangkan program pelatihan kepemimpinan yang lebih tepat sasaran dan berbasis kebutuhan nyata. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan strategi pemetaan pelatihan berbasis kompetensi kepemimpinan guna meningkatkan efektivitas pengembangan kompetensi kepemimpinan di lingkungan perguruan tinggi. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam meningkatkan efektivitas program pelatihan kepemimpinan dan mendukung transformasi kelembagaan menuju perguruan tinggi berdaya saing global. Pendekatan penelitian menggunakan metode kuantitatif deskriptif dengan instrumen survei kepuasan pegawai terhadap pimpinan unit kerja. Analisis data dilakukan dengan menggunakan Customer Satisfaction Index (CSI) untuk mengukur tingkat kepuasan dan Importance–Performance Analysis (IPA) untuk mengidentifikasi prioritas perbaikan. Hasil penelitian menunjukkan nilai CSI keseluruhan sebesar 77,95% (kategori “puas”), dengan skor tertinggi pada communication, team building, dan problem solving serta skor terendah pada aspek performance management dan financial planning. Analisis IPA menunjukkan bahwa coaching and mentoring, performance management, dan decision making termasuk dalam prioritas perbaikan, sedangkan aspek leadership dan team building perlu dipertahankan. Temuan ini memberikan dasar empiris bagi optimalisasi strategi pelatihan kepemimpinan berbasis kompetensi dalam kebijakan pengembangan sumber daya manusia organisasi. Kebijakan tersebut disusun dalam wujud kurikulum pengembangan kapasitas kepemimpinan yang terstandar, tidak hanya untuk pengembangan kompetensi pasca-penempatan jabatan, hasil ini juga dapat digunakan untuk menyusun program pelatihan pra-jabatan bagi calon pemimpin, sebagai bentuk strategi talent development dan succession planning. Kurikulum ini diharapkan tidak hanya menjadi sarana pembelajaran internal, tetapi juga dapat diimplementasikan sebagai program pelatihan eksternal yang dapat diakses oleh pemangku kepentingan di luar institusi.