Switching manuver adalah proses membuka dan menutup komponen-komponen pada Sistem Tenaga Listrik (STL) seperti Pemutus (PMT) dan Pemisah (PMS) sebelum dan sesudah pekerjaan instalasi kelistrikan, baik instalasi transmisi, pembangkitan dan distribusi yang bertujuan untuk memastikan keselamatan dan kelancaran pekerjaan instalasi. Gardu Induk ( GI ) Ngenang adalah gardu induk ( GI ) yang berada pada sistem Bintan, di mana gardu induk tersebut memiliki desain khusus yang tidak memiliki Bay Penghantar 150 kV atau sering disebut Gardu Induk Cantol. Gardu Induk Ngenang terletak pada Line 2 Bay Penghantar Tanjung Kasam – Tanjung Uban dengan memanfaatkan line penghantar tersebut sebagai busbar 150 kV. Dengan kondisi tersebut maka ketika pemeliharaan Bay Penghantar Tanjung Kasam – Tanjung Uban 2 tentunya akan berdampak padam pada Gardu Induk Ngenang. Permasalahan timbul ketika ada pekerjaan perbaikan pondasi Lightning Arrester ( LA ) pada penghantar tersebut, di mana butuh pemadaman line penghantar selama 8 jam dengan durasi pekerjaan 6 hari. Hal ini tentunya sangat memberatkan dikarenakan Gardu Induk Ngenang harus padam 8 jam selama 6 hari. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk merancang prosedur khusus Switching Pembebasan Tegangan dan Pemberian Tegangan Penghantar 150 kV Tanjung Kasam – Tanjung Uban 2 dan Gardu Induk Ngenang agar dapat meminimalisir dampak padam yang ada di Gardu Induk Ngenang. Dengan adanya Prosedur Khusus Switching tersebut berdampak pada perbaikan kinerja System Average Interruption Duration Index (SAIDI) sebesar 89 % dan System Average Interruption Frequency Index (SAIFI) sebesar 50 % serta Energy Not Serve ( ENS ) sebesar 89 % .