Sindrom Ovarium Polikistik (PCOS) adalah gangguan endokrin yang sering terjadi pada wanita usia reproduktif, termasuk remaja putri, dan dapat menyebabkan dampak jangka panjang seperti infertilitas, gangguan metabolisme, dan masalah psikologis. Rendahnya tingkat pengetahuan remaja putri mengenai PCOS berpotensi menyebabkan keterlambatan deteksi dini dan pengobatan yang tepat. Penggunaan media digital sebagai sarana pendidikan kesehatan dianggap relevan dengan karakteristik remaja yang familiar dengan teknologi dan dapat meningkatkan efektivitas pendidikan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendidikan PCOS berbasis digital terhadap tingkat pengetahuan PCOS pada siswi SMA Negeri 1 Sedayu. Penelitian ini menggunakan desain kuasi-eksperimental dengan pendekatan pre-test post-test satu kelompok. Sampel penelitian terdiri dari 100 siswi kelas 11 yang dipilih menggunakan teknik pengambilan sampel acak. Intervensi diberikan dalam bentuk pendidikan PCOS berbasis digital melalui video edukasi, infografis, dan materi visual yang disampaikan secara terstruktur, diikuti dengan evaluasi menggunakan kuesioner pengetahuan PCOS yang telah divalidasi. Analisis data dilakukan menggunakan Uji Peringkat Bertanda Wilcoxon untuk membandingkan hasil pre-test dan post-test. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan tingkat pengetahuan PCOS di kalangan siswi, dari 82,0% pada pre-test menjadi 100,0% pada post-test. Uji Wilcoxon menunjukkan nilai signifikansi p = 0,000 (p < 0,05), yang mengindikasikan adanya pengaruh signifikan secara statistik antara konseling PCOS berbasis digital dan peningkatan pengetahuan di kalangan siswi. Kesimpulan dari penelitian ini adalah konseling PCOS berbasis digital secara signifikan meningkatkan pengetahuan PCOS di kalangan siswi di SMAN 1 Sedayu (p = 0,000). Konseling kesehatan berbasis digital dapat menjadi media pendidikan alternatif yang efektif dan inovatif untuk meningkatkan literasi kesehatan reproduksi di kalangan remaja putri di era digital ini.