Pendahuluan: Nyeri setelah operasi fraktur merupakan masalah umum yang memengaruhi proses pemulihan dan kualitas hidup pasien. Oleh karena itu, manajemen nyeri yang efektif sangat penting. Intervensi nonfarmakologi, seperti aromaterapi lemon dan guided imagery, memiliki potensi besar sebagai terapi pelengkap untuk mengatasi nyeri. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tingkat nyeri pasien pascaoperasi fraktur sebelum dan sesudah diberikan intervensi kombinasi aromaterapi lemon dan guided imagery. Metode: Penelitian ini menerapkan pendekatan kuantitatif dengan desain pre-experimental one group pretest-posttest. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah non-probability sampling dengan metode purposive sampling. Subjek penelitian berjumlah 61 orang, pasien pascaoperasi fraktur di RSD Gunung Jati Kota Cirebon dengan rentang usia 17 - 65 tahun. Peneliti mengukur tingkat nyeri menggunakan Numerical Rating Scale (NRS) yang telah teruji validitasnya (nilai ICCS 0,941). Hasil: Penelitian ini menunjukkan sebelum intervensi dilakukan mayoritas responden mengalami nyeri sedang sejumlah 56 responden (91,8%), setelah intervensi diberikan, mayoritas responden mengalami nyeri ringan sejumlah 34 responden (55,7%) dengan p value 0,000 (<0,05), sehingga membuktikan adanya perbedaan tingkat nyeri pasien post operasi fraktur yang signifikan sebelum dan sesudah intervensi. Kesimpulan: Kombinasi aromaterapi lemon dan guided imagery terbukti efektif menurunkan tingkat nyeri pada pasien pascaoperasi fraktur. Hasil penelitian ini merekomendasikan penerapan terapi non-farmakologi ini sebagai salah satu intervensi keperawatan untuk manajemen nyeri setelah operasi.