Latar belakang: Stunting merupakan masalah kesehatan yang masih tinggi di Indonesia dan berdampak pada tumbuh kembang anak dalam jangka panjang. Berbagai faktor dapat mempengaruhi kejadian stunting, di antaranya pemberian ASI eksklusif, riwayat BBLR, penyakit infeksi, status gizi ibu, pendidikan, dan kelahiran prematur. Tujuan penelitian: Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting pada balita usia 24–59 bulan di Puskesmas Seyegan. Metode penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan jenis observasional analitik menggunakan desain case control, dengan perbandingan kelompok kasus dan kontrol 1:1. Sampel dalam penelitian ini adalah 264 balita usia 24–59 bulan. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Sumber data adalah laporan gizi Puskesmas Seyegan tahun 2024. Instrumen dalam penelitian ini adalah master tabel. Analisis data menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara pemberian ASI eksklusif, riwayat BBLR, status gizi ibu dan bayi prematur dengan kejadian stunting (p < 0,05). Nilai Odds Ratio (OR) tertinggi adalah pemberian ASI eksklusif yakni sebesar (OR: 52,572 ) artinya anak yang tidak mendapatkan ASI eksklusif memiliki risiko 52 kali lebih besar mengalami stunting dibandingkan dengan anak yang mendapat ASI eksklusif. Simpulan: Terdapat hubungan signifikan antara pemberian ASI eksklusif, riwayat BBLR, status gizi, dan bayi prematur dengan kejadian stunting. Saran: Petugas kesehatan diharapkan fokus pada edukasi pentingnya ASI eksklusif sejak persiapan kelahiran, status gizi ibu, pencegahan BBLR, dan riwayat premature.