Pasien post-thorakotomi dengan diagnosis medis tumor paru sering mengalami sesak napas akibat nyeri insisi, penurunan ekspansi paru, dan gangguan mekanika ventilasi pasca pembedahan. Kondisi tersebut meningkatkan kerja napas serta risiko komplikasi pulmoner, sehingga diperlukan intervensi keperawatan yang berfokus pada optimalisasi ventilasi dan oksigenasi. Posisi semifowler (30°–45°) diterapkan sebagai intervensi nonfarmakologis pada pasien post-thorakotomi untuk mengurangi tekanan pada diafragma, meningkatkan ekspansi paru, dan membantu menurunkan derajat sesak napas. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus pada pasien Tn. N dengan diagnosis medis post-thorakotomi akibat tumor paru yang dirawat di Intensive Care Unit (ICU) RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Pengumpulan dan analisis data dilakukan melalui proses keperawatan yang meliputi pengkajian, penetapan diagnosis keperawatan, intervensi, implementasi, dan evaluasi hasil. Intervensi keperawatan berupa penerapan posisi semifowler (30°–45°) dilaksanakan selama dua hari perawatan, yaitu pada 16–17 September, sesuai kondisi klinis pasien. Evaluasi dilakukan dengan membandingkan indikator gangguan pertukaran gas sebelum dan sesudah intervensi, meliputi frekuensi napas, saturasi oksigen (SpO₂), serta keluhan subjektif sesak napas. Hasil menunjukkan adanya perbaikan fungsi respirasi, ditandai dengan penurunan frekuensi napas dari 27×/menit menjadi 20×/menit dan saturasi oksigen yang tetap stabil pada angka 100%. Secara subjektif, pasien tampak lebih rileks dan melaporkan penurunan keluhan sesak napas, yang mengindikasikan peningkatan efektivitas ventilasi dan kenyamanan pernapasan setelah penerapan posisi semifowler. Penerapan posisi semifowler terbukti efektif dalam mengurangi sesak napas, menurunkan frekuensi napas, dan menstabilkan saturasi oksigen pada pasien post-thorakotomi dengan tumor paru, sehingga layak direkomendasikan sebagai intervensi keperawatan nonfarmakologis di ruang intensif.