Rismayanti Rismayanti
Fakultas Farmasi, Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur, Jl. Ir. H. Juanda No.15, Sidodadi, Kec. Samarinda Ulu, Kota Samarinda, Kalimantan Timur 75124

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Analisis Rasionalitas Peresepan Antibiotik Pada Pasien Infeksi Saluran Kemih Dengan Metode Gyssens di Rumah Sakit X Samarinda Muh. Irham Bakhtiar; Rismayanti Rismayanti
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 21 No. 01 Juli 2024
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pharmacy.v21i1.17582

Abstract

Infeksi saluran kemih disebabkan oleh perkembangbiakan mikroba yang terjadi di sepanjang sistem saluran kemih, termasuk ginjal. Memberikan gambaran profil peresepan pasien infeksi saluran kemih di Rumah Sakit X Kota Samarinda dan menilai rasionalitas peresepan antibiotik untuk pasien infeksi saluran kemih di Rumah Sakit X Kota Samarinda. Desain penelitian ini menggunakan observasional deskriptif analitik dengan desain Cohort retrospektif. Pengambilan sampel menggunakan Teknik purposive sampling. Subyek penelitian ini adalah semua pasien ISK Yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi penelitian yang dirawat di RS X Kota Samarinda selama periode Januari 2020-Agustus 2022. Pasien ISK di Rumah Sakit X Kota Samarinda tahun Januari 2020 - Agustus 2022 sebanyak 55 pasien (rekam medis).Berdasarkan temuan penelitian ini, antibiotik  Ceftriaxone merupakan antibiotik paling banyak digunakan sebanyak 53,37%, diikuti Levofloxacin (10,44%), Terfacef (5,97%), Ciprofloxacin (5,97%), Cefixime (2,98%), Cefoperazone Sulbactam (2,98%), Baguinor (1,49%), Ceftazidime (1,49%), Gentamisin (1,49%), Meropenem (1,49%), Urotractin dan Azithromycin (1,49%). Semua berjumlah 67 regimen ditemukan memiliki ketidakrasionalan dengan rincian adalah kategori IIB sebanyak 68,65% (46 regimen) kategori IIA sebanyak 64,17% (43 regimen), kategori IIIB sebanyak 62,68% (42 regimen), Kategori V sebanyak 4,47% (3 regimen), kategori IIIA sebanyak 1,49% (2 regimen) dan IIC sebanyak 1,49% (2 regimen).