Depresiasi rupiah merupakan isu ekonomi makro yang dapat memengaruhi stabilitas harga dan daya beli melalui perubahan biaya impor, ekspektasi inflasi, serta penyesuaian harga di tingkat produsen dan konsumen. Kajian terdahulu banyak membahas hubungan nilai tukar dengan inflasi atau perdagangan secara terpisah, sehingga sintesis mengenai rantai transmisi depresiasi rupiah hingga dampaknya terhadap daya beli rumah tangga masih perlu dipertegas. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor pendorong depresiasi rupiah, mekanisme perambatannya terhadap inflasi, dan implikasinya terhadap daya beli masyarakat Indonesia. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi kepustakaan terstruktur terhadap artikel ilmiah dan dokumen institusional yang relevan, dipublikasikan terutama pada periode 2021–2025, melalui proses seleksi berdasarkan relevansi topik, kredibilitas sumber, keterlacakan bibliografi, dan kesesuaian dengan fokus Indonesia. Data dianalisis menggunakan analisis isi dan sintesis tematik dengan triangulasi antarjenis sumber. Hasil sintesis menunjukkan bahwa tekanan eksternal dan kondisi domestik dapat memengaruhi rupiah, sedangkan dampaknya terhadap inflasi berlangsung melalui saluran harga impor, biaya produksi, ekspektasi, dan respons kebijakan; besaran *exchange rate pass-through * tidak bersifat seragam antarperiode dan kondisi ekonomi. Penurunan daya beli terutama terjadi ketika kenaikan harga kebutuhan pokok melampaui pertumbuhan pendapatan nominal. Kebaruan penelitian terletak pada penyusunan kerangka transmisi terintegrasi depresiasi rupiah–inflasi–daya beli yang sekaligus menempatkan faktor peredam berupa kebijakan stabilisasi, struktur impor, dan kondisi pendapatan. Kajian ini menegaskan perlunya respons kebijakan yang terkoordinasi untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus melindungi kelompok rumah tangga rentan.