Indah Purwanti
UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

POTRET INDUSTRI HALAL FASHION: RANTAI NILAI DAN DAMPAKNYA TERHADAP PEREKONOMIAN MASYARAKAT KOTA PEKALONGAN Indah Purwanti
Econetica: Jurnal Sosial, Ekonomi, dan Bisnis Vol. 7 No. 1 (2025): Mei 2025
Publisher : Program Studi Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi Universitas Nahdlatul UlamaNusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69503/econetica.v7i1.336

Abstract

Perkembangan industry menjadi pendongkrak pembangunan ekonomi karena dengan adanya alih fungsi lahan pertanian dan profesi, maka industry menjadi salah satu pengerak ekonomi masyarakat. Industri halal pada masa ini adalah ladang bagi para pengusaha dan tenaga kerja Indonesia, karena permintaan akan produk halal di dunia semakin banyak. Kota Pekalongan terkenal dengan produksi tekstil, batik dan fashion siap pakai dan menurut data, industry fashion mengerakan perekonomian masyarakat. Artikel ini bertujuan untuk mengetahui keterlibatan pelaku dalam skema rantai nilai industry halal fashion global dan untuk mengetahui kondisi perekonomian masyarakat kota dengan keberadaan industry halal fashion. Metode yang akan digunakan adalah studi literatur dan studi lapangan. Studi literatur untuk mencari pemahaman tentang rantai nilai industry global sedangkan studi lapangan untuk menelusuri rantai nilai halal fashion di Kota Pekalongan. Pengumpulan data berupa telaah literatur dan wawancara. Hasil telaah literatur ditemukan bahwa dalam industry fashion halal global, Indonesia mengimpor lebih banyak daripada melakukan ekspor. Nilai industry fashion halal juga tidak sebanyak industry pengolahan makanan dan minuman halal. Sedangkan dalam rantai nilai industry, setiap perusahaan menerapkan margin untuk kemudian digunakan sebagai keuntungan. Kondisi ekspor halal fashion di Kota Pekalongan baru merambah pasar dalam negeri dan sedikit yang berkecimpung di pasar ekspor. Sedangkan untuk ekosistem industry halal fashion saat ini ada dalam tahap perencanaan dan pengembangan. Kata Kunci: rantai nilai industri, halal fashion industry, ekspor.
Depresiasi Rupiah, Inflasi, dan Daya Beli Masyarakat Indonesia: Kerangka Transmisi Terintegrasi Berbasis Kajian Kepustakaan Diah Qurota A’yun; Indah Purwanti
AsbaK Vol. 4 No. 1 (2026): Asbak: Jurnal Ekonomi dan Bisnis
Publisher : Loddos Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69688/asbak.v4i1.1197

Abstract

Depresiasi rupiah merupakan isu ekonomi makro yang dapat memengaruhi stabilitas harga dan daya beli melalui perubahan biaya impor, ekspektasi inflasi, serta penyesuaian harga di tingkat produsen dan konsumen. Kajian terdahulu banyak membahas hubungan nilai tukar dengan inflasi atau perdagangan secara terpisah, sehingga sintesis mengenai rantai transmisi depresiasi rupiah hingga dampaknya terhadap daya beli rumah tangga masih perlu dipertegas. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor pendorong depresiasi rupiah, mekanisme perambatannya terhadap inflasi, dan implikasinya terhadap daya beli masyarakat Indonesia. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi kepustakaan terstruktur terhadap artikel ilmiah dan dokumen institusional yang relevan, dipublikasikan terutama pada periode 2021–2025, melalui proses seleksi berdasarkan relevansi topik, kredibilitas sumber, keterlacakan bibliografi, dan kesesuaian dengan fokus Indonesia. Data dianalisis menggunakan analisis isi dan sintesis tematik dengan triangulasi antarjenis sumber. Hasil sintesis menunjukkan bahwa tekanan eksternal dan kondisi domestik dapat memengaruhi rupiah, sedangkan dampaknya terhadap inflasi berlangsung melalui saluran harga impor, biaya produksi, ekspektasi, dan respons kebijakan; besaran *exchange rate pass-through * tidak bersifat seragam antarperiode dan kondisi ekonomi. Penurunan daya beli terutama terjadi ketika kenaikan harga kebutuhan pokok melampaui pertumbuhan pendapatan nominal. Kebaruan penelitian terletak pada penyusunan kerangka transmisi terintegrasi depresiasi rupiah–inflasi–daya beli yang sekaligus menempatkan faktor peredam berupa kebijakan stabilisasi, struktur impor, dan kondisi pendapatan. Kajian ini menegaskan perlunya respons kebijakan yang terkoordinasi untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus melindungi kelompok rumah tangga rentan.