Saprina Saprina
Universitas Kutai Kartanegara, Tenggarong

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Metode Pembelajaran PAI Kolaboratif di Era Society 5.0: Sebuah Studi Literatur Saprina Saprina; Ratna Ratna; Mukmin Mukmin
Journal of Instructional and Development Researches Vol. 6 No. 1 (2026): February
Publisher : Yayasan Indonesia Emerging Literacy Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53621/jider.v6i1.683

Abstract

Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) perlu diubah karena perkembangan masyarakat 5.0. Ini terutama perlu menyelaraskan nilai spiritual dan teknologi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari konsep dasar PAI kolaboratif dan bagaimana menerapkannya sebagai model pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik zaman sekarang. Penelitian ini menggunakan metode tinjauan kepustakaan dengan pendekatan kualitatif. Data diperoleh dari publikasi ilmiah yang relevan melalui database akademik seperti Google Scholar dengan kata kunci sesuai fokus penelitian. Pengumpulan data dilakukan melalui proses seleksi literatur berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Data yang terpilih kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik untuk mengidentifikasi dan mengelompokkan tema-tema utama secara sistematis. Hasil kajian menunjukkan bahwa pembelajaran PAI kolaboratif mampu meningkatkan pemahaman keagamaan peserta didik, mengembangkan kemampuan berpikir kritis, serta memperkuat internalisasi nilai spiritual melalui aktivitas belajar berbasis interaksi. Model ini juga terbukti lebih adaptif dibandingkan metode tradisional yang bersifat pasif, terutama ketika dihadapkan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan kolaborasi abad ke-21. Temuan ini menegaskan bahwa pembelajaran PAI kolaboratif merupakan alternatif efektif dalam memperkuat integrasi antara teknologi dan nilai Islam di era Society 5.0. Penelitian lanjutan dianjurkan untuk melibatkan studi lapangan dengan instrumen evaluasi yang lebih komprehensif guna menguji efektivitas model ini secara empiris.
Implementasi Nilai-Nilai Kultur Pesantren Pada Santri Non-Mukim Dalam Kehidupan Sehari-Hari Saprina Saprina; Octavia Dwi; Tri Sholikhatun; Ferry Sopyan; Munandar Ma'ruf; Moh Khoirul Fatihin
Journal of Instructional and Development Researches Vol. 6 No. 2 (2026): April
Publisher : Yayasan Indonesia Emerging Literacy Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53621/jider.v6i2.779

Abstract

Kultur pesantren merupakan sistem nilai yang berperan penting dalam membentuk karakter santri, seperti keikhlasan, kedisiplinan, kemandirian, kesederhanaan, dan ukhuwah Islamiyah, yang umumnya terbangun melalui kehidupan yang terstruktur di lingkungan pesantren. Namun, tidak semua santri tinggal di asrama, melainkan terdapat santri non-mukim yang menjalani sistem pulang-pergi sehingga menghadapi tantangan tersendiri dalam mengimplementasikan nilai-nilai tersebut di luar lingkungan pesantren. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji nilai-nilai kultur pesantren serta menganalisis implementasinya pada santri non-mukim dalam kehidupan sehari-hari. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi literatur melalui pengumpulan data dari buku, jurnal ilmiah, dan sumber relevan lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa santri non-mukim mampu mengimplementasikan nilai-nilai kultur pesantren dalam kehidupan sehari-hari, seperti menjaga ibadah, berperilaku sopan, serta disiplin dalam belajar dan beraktivitas. Implementasi tersebut didukung oleh lingkungan keluarga yang religius serta adanya kesadaran diri santri dalam menjalankan nilai-nilai yang telah diperoleh di pesantren. Di sisi lain, terdapat pula faktor yang mempengaruhi tingkat konsistensi penerapan nilai tersebut, antara lain pengaruh lingkungan pergaulan serta keterbatasan pengawasan langsung dari pihak pesantren.Temuan ini menegaskan bahwa keberhasilan penerapan nilai-nilai kultur pesantren pada santri non-mukim bergantung pada sinergi antara pesantren, keluarga, dan individu. Oleh karena itu, kerja sama yang berkelanjutan di antara ketiga unsur tersebut menjadi kunci dalam mengoptimalkan pembentukan karakter santri dalam kehidupan sehari-hari.