Zaqiatul Mardiah
University Al-Azhar Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Penerapan Media Digital Inovatif untuk Meningkatkan Kompetensi Pendamping dalam Pembelajaran Literasi Anak di Kampung Cahaya: The Implementation of Innovative Digital Media to Enhance Facilitators’ Competence in Literacy Learning for Children at Kampung Cahaya Bejo Sutrisno; Nurdiana Nurdiana; Zaqiatul Mardiah
DARMADIKSANI Vol 6 No 1 (2026): Edisi Maret
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, FKIP, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/darmadiksani.v6i1.9321

Abstract

Hasil survei awal di Kampung Cahaya, Menteng, Jakarta Selatan, menunjukkan bahwa sebagian besar anak usia sekolah dasar masih membaca dengan cara mengeja, kesulitan memahami isi bacaan, dan menulis tanpa pemahaman makna. Kondisi ini mengindikasikan rendahnya tingkat literasi baca-tulis dasar serta terbatasnya metode pembelajaran yang menarik dan sesuai dengan kebutuhan anak. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini dirancang untuk memberdayakan para pendamping literasi agar mampu meningkatkan kemampuan baca-tulis anak melalui penggunaan modul dan media ajar digital berbasis High Order Thinking Skills. Kegiatan dilaksanakan secara luring selama enam bulan (Maret–Agustus 2025) dengan 14 kali sesi tatap muka, melibatkan empat orang pendamping dari kalangan mahasiswa bertempat tinggal di sekitar lokasi Kampung Cahaya yang memenuhi kriteria memiliki latar belakang pendidikan dan minat di bidang literasi anak. Tahapan kegiatan mencakup identifikasi kebutuhan literasi dan pemetaan kemampuan awal anak, pelatihan pembuatan modul baca-tulis digital berbasis HOTS, pendampingan praktik lapangan bersama anak-anak, serta  evaluasi hasil kegiatan melalui observasi dan penilaian kinerja pendamping maupun kemajuan anak. Hasil pelaksanaanmenunjukkan peningkatan signifikan pada kemampuan pendamping dalam merancang media ajar digital interaktif dan latihan literasi yang menstimulasi pemikiran kritis anak. Anak-anak juga menunjukkan kemajuan nyata dalam membaca lancar tanpa mengeja, memahami isi bacaan, dan menulis ulang informasi secara sederhana. Berdasarkan hasil evaluasi, seluruh target kegiatan tercapai dengan indikator peningkatan skor kemampuan literasi anak sebesar 35% dan peningkatan kompetensi pedagogis pendamping sebesar 40%. Sebagai tindak lanjut, program ini akan dilanjutkan melalui pembinaan berkala dan pembentukan komunitas literasi digital lokal di Kampung Cahaya dengan dukungan Lembaga Penelitian, Inovasi, dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Al-Azhar Indonesia. Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya berhasil mengatasi permasalahan literasi dasar, tetapi juga membangun fondasi keberlanjutan dalam pengembangan budaya literasi digital di tingkat komunitas.
Rhetorical and Ideological Strategies in Hani bin Qabishah’s Khutbah: An Integrative Aristotelian–Faircloughian Approach Dinnan Nadiyatul Fairuz; Zaqiatul Mardiah
Al-Muyassar: Journal of Arabic Education Vol 5 No 3 (2026): Al-Muyassar: Journal of Arabic Education
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa Arab, Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/nswh1570

Abstract

Although Aristotelian rhetoric and Fairclough’s Critical Discourse Analysis (CDA) have each been applied to Arabic oratory, prior studies have rarely combined the two frameworks, and none has done so for the pre-Islamic khutbah of Hani bin Qabishah. This article addresses that gap by examining the rhetorical and ideological strategies embedded in the khutbah of Hani bin Qabishah through an integrative framework combining Aristotle’s rhetorical theory (ethos, pathos, and logos) and Norman Fairclough’s Critical Discourse Analysis (CDA). As one of the most well-known pre-Islamic Arabic orations, the khutbah serves not merely as a pre-battle motivational speech but as a discursive practice that constructs social values and legitimizes tribal authority. Employing a qualitative descriptive method, this study analyzes the data in three interconnected stages following Fairclough’s three-dimensional model—the textual (micro) dimension, discourse practice, and social practice—with each identified rhetorical unit further classified according to Aristotle’s categories of ethos, pathos, and logos. The primary data are derived from the text of Hani bin Qabishah’s khutbah as compiled by Ahmad Zaki Safwat in Jamharatu Khuṭabi al-‘Arab fī ‘Uṣūr al-‘Arabiyyah al-Zāhirah (vol. 1, p. 37). The analysis demonstrates that pathos plays a dominant role in mobilizing collective emotions through moral oppositions, heroic metaphors, and imperative constructions. Ethos is established through the speaker’s moral and military authority as a tribal leader, while logos operates through a form of fatalistic reasoning characteristic of pre-Islamic Arab worldview. From a critical discourse perspective, the khutbah functions as an ideological instrument that reinforces values of courage, honor, and tribal solidarity. This study contributes to Arabic discourse studies by highlighting the analytical potential of integrating classical rhetoric with critical discourse analysis in the study of pre-Islamic Arabic texts. It further underscores the continuity of Arabic oratorical traditions in shaping religious and political discourse in later periods.