Urgensi penelitian ini dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa pembinaan ibadah di pesantren sering kali masih berorientasi pada kepatuhan formal terhadap aturan, sehingga praktik ibadah berisiko dimaknai sebatas rutinitas normatif dan belum sepenuhnya terinternalisasi sebagai kesadaran spiritual yang berkelanjutan. Dalam konteks ini, musyrif memiliki posisi strategis sebagai figur pendamping yang berinteraksi langsung dengan santri dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya sebagai pengawas kedisiplinan, tetapi juga sebagai pembimbing yang menjembatani nilai-nilai normatif pesantren dengan kebutuhan psikologis dan perkembangan religius santri. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis peran musyrif dalam pembinaan ibadah santri secara humanis dan kontekstual, termasuk strategi, pendekatan, serta tantangan yang dihadapi, sekaligus mengidentifikasi bagaimana proses pembinaan tersebut mendorong transformasi motivasi santri dari kepatuhan eksternal menuju kesadaran dan pemaknaan ibadah yang lebih mendalam. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan desain studi kasus. Subjek penelitian terdiri atas musyrif dan santri yang terlibat langsung dalam proses pembinaan ibadah. Instrumen utama penelitian adalah peneliti sendiri yang didukung oleh pedoman wawancara semi-terstruktur. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam untuk menggali pengalaman, strategi, serta tantangan pembinaan ibadah. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan teknik analisis kualitatif deskriptif yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data dijaga melalui triangulasi sumber dan member check. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembinaan ibadah oleh musyrif dilaksanakan melalui pembiasaan, keteladanan, dan pendampingan berkelanjutan, sehingga mendorong pergeseran motivasi santri menuju kesadaran spiritual yang lebih reflektif dan bermakna.