Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

The commodification of education and inequality in Indonesia: A sociological perspective Kurnia Asni Sari; Suci Wahyu Fajriani; Gunawan Gunawan; Ainul Zulqoifah; Mallia Hartani
Priviet Social Sciences Journal Vol. 5 No. 8 (2025): August 2025
Publisher : Privietlab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55942/pssj.v5i8.623

Abstract

This study analyzes the phenomena of commodification and inequality in the Indonesian education industry from a critical sociological perspective. Education, which is a basic right for all citizens, has been transformed into a commercial commodity accessible only to groups with certain economic, social, and cultural capital. This study used qualitative methods with content analysis based on Bourdieu's capital theory and Weber's stratification. The results indicate that commodification of education through superior private schools, tutoring, and achievement pathways strengthens student privilege and widens the gap between social classes. The privatization of education obscures the principle of meritocracy and creates a cycle of structural injustice that ultimately makes it difficult for students to achieve vertical social mobility. This research finds that educational inequality in Indonesia is not only a matter of access but also a structural problem that is supported by an unequal social, cultural, and economic system.
Social capital in Islamic community-based pesantren Nabila Tahira; Kurnia Asni Sari; Ainul Zulqoifah Asmawati; Suci Wahyu Fajriani
Priviet Social Sciences Journal Vol. 5 No. 10 (2025): October 2025
Publisher : Privietlab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55942/pssj.v5i10.706

Abstract

Pesantren is one of the oldest educational institutions in Indonesia. This study aims to analyze how social capital contributes to economic independence at Pesantren Aulia Cendekia in Palembang, Indonesia. This is due to limited funding sources and competition among educational institutions. Pesantren, as an institution with a unique educational program centered on religious teaching, uses social capital to maintain financial sustainability by utilizing business units within the institution. This study examines the assets of pesantren business units using Robert D. Putnam's social capital theory, which links social capital with economic independence. With a comprehensive and contextual approach, this study uses qualitative methodology and collects data through observation, interviews, and documentation. The results show that the economic success of pesantren depends not only on their tangible assets but also on the quality of connections, teamwork, and important figures such as ustadz. Using sustainable business units, such as managing productive waqf (Islamic endowment funds), establishing business incubators, and forming Micro Waqf Banks in collaboration with the government, Islamic boarding schools utilize their social capital, which includes alumni networks and trust. In addition to business units, the ustad also plays an important role in the sustainability of Islamic boarding schools in terms of their economic independence.
Peran Ojek Online Indralaya dalam Menompang Ketahan Ekonomi Rumah Tangga Perkotaan Sabrina; Lisya Septiani Putri; Suci Wahyu Fajriani; Kirana Suhada; Imelda Putri Zulkarnain; Reva Zikri Fahlevi; Salsabilla Azzahra; Rudy Kurniawan
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i3.5108

Abstract

Permasalahan ekonomi rumah tangga di wilayah perkotaan, khususnya bagi keluarga pengemudi ojek online, semakin kompleks akibat pendapatan yang tidak menentu dan ketergantungan terhadap platform digital. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran ojek online dalam ketahanan ekonomi rumah tangga di Indralaya serta strategi adaptif yang diterapkan oleh keluarga pengemudi dalam menghadapi ketidakpastian pendapatan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan sosiologi perkotaan, melalui wawancara mendalam dengan pengemudi ojek online serta studi literatur yang berkaitan dengan pekerjaan informal, ekonomi rumah tangga, dan transportasi digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ojek online menjadi sumber pendapatan utama bagi rumah tangga, membantu pemenuhan kebutuhan dasar, serta memberikan fleksibilitas dalam pengaturan waktu kerja. Akan tetapi, pendapatan yang tidak tetap menjadikan rumah tangga rentan terhadap krisis ekonomi, seperti pandemi dan kenaikan harga bahan bakar minyak. Untuk menghadapi ketidakpastian tersebut, keluarga pengemudi menerapkan strategi adaptif, di antaranya diversifikasi sumber pendapatan, keterlibatan anggota keluarga dalam aktivitas ekonomi, serta pemanfaatan program bantuan sosial. Berdasarkan temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa ojek online memiliki peranan penting dalam ketahanan ekonomi keluarga, namun perlindungan sosial dan kebijakan pendukung diperlukan untuk mengurangi tingkat kerentanan yang ada. Penelitian ini memberikan implikasi bagi pengembangan kebijakan ekonomi digital serta kajian lanjutan mengenai ekonomi informal di wilayah perkotaan.    
STRUKTUR SOSIAL EKONOMI PEKERJA SEKTOR INFORMAL DI KAWASAN SEBERANG ULU KOTA PALEMBANG Thita Maharani; Yusela anida; Nindi amirnati; Dwi andreanno Saputra; Rudy Kurniawan; Lisya Septiani Putri; Suci Wahyu Fajriani
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i3.5343

Abstract

Sektor informal merupakan salah satu sektor ekonomi yang memiliki peran penting dalam menyerap tenaga kerja dan menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat perkotaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur sosial ekonomi pekerja sektor informal di kawasan Seberang Ulu Kota Palembang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam terhadap empat informan yang bekerja di sektor informal, yaitu pedagang warung, pedagang ikan di pasar, pengrajin tenun songket, serta pelaku usaha kecil rumah tangga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pekerja sektor informal menjadikan aktivitas tersebut sebagai sumber pendapatan utama bagi keluarga. Namun demikian, pendapatan yang diperoleh bersifat tidak tetap dan sangat dipengaruhi oleh kondisi pasar, jumlah pembeli, serta faktor eksternal seperti cuaca. Selain itu, sebagian besar pekerja sektor informal menjalankan usaha secara mandiri dengan modal pribadi tanpa dukungan organisasi atau kelompok usaha tertentu. Dalam mengelola keuangan rumah tangga, para pekerja sektor informal menerapkan strategi penghematan serta memanfaatkan pendapatan harian untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa hubungan sosial antar pekerja di lingkungan sekitar relatif baik meskipun terdapat persaingan dalam kegiatan ekonomi. Oleh karena itu, sektor informal tetap menjadi salah satu penopang utama ekonomi masyarakat, meskipun masih menghadapi berbagai keterbatasan seperti ketidakstabilan pendapatan dan minimnya dukungan modal usaha.
Kemiskinan Perkotaan sebagai Fenomena Multidimensional: Dinamika dan Strategi Bertahan Kelompok Rentan di Permukiman Sempadan Sungai Cibeureum, Kota Bandung Danapati Putri; Rudy Kurniawan; Suci Wahyu Fajriani; Lisya Septiani Putri
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i3.6120

Abstract

Kemiskinan perkotaan di Kota Bandung merupakan fenomena multidimensional yang dipengaruhi oleh interaksi faktor ekonomi, sosial dan spasial. Penelitian ini bertujuan menganalisis bentuk, penyebab, dan dinamika kemiskinan serta strategi bertahan kelompok rentan di permukman sempadan Sungai Cibeureum. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan strategi studi kasus melalui observasi dan wawancara terhadap 30 informan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemiskinan termanifestasi dalam keterbatasan fisik hunian, ketidakstabilan ekonomi akibat dominasi sektor informal, serta keterbatasan akses terhadap layanan dasar. Penyebab utama kemiskinan meliputi tingginya harga lahan, urbanisasi, dan ketidakpastian pendapatan dan kerentanan terhadan risiko lingkungan seperti banjir. Masyarakat mengembangkan strategi bertahan melalui pemanfaatan jaringan sosial, kedekatan dengan sumber penghidupan, dan adaptasi terhadap keterbatasan. Temuan ini menegaskan bahwa kemiskinan perkotaan merupakan proses yang dinamis dan terikat secara spasial.
BECAUSE MOTIVE AHBAB: A PHENOMENOLOGICAL ANALYSIS OF AHBAB TABLIGHI JAMA’AT DA’WAH MOVEMENT Ilal Ilham; Tresno Tresno; Muhammad Rifai; Gunawan Gunawan; Mallia Hartani; Suci Wahyu Fajriani
Jurnal Ilmiah Sosiologi Agama (JISA) Vol 9, No 1 (2026)
Publisher : Sociology of Religion Study Program, Faculty of Social Sciences, North Sumatra State Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30829/jisa.v9i1.28538

Abstract

This article discusses a phenomenological study of Tablighi Jama’at ahbab, focusing on the motives of Tablighi Jama’at ahbab. The purpose of this study is to explore the subjective experiences and unconscious motives of ahbab participating in the Tablighi Jama’at da'wah movement. This study uses a qualitative approach with an exploratory descriptive research type that aims to describe and explore the phenomenon in depth. The data collection techniques in this study used participant observation to directly observe experiences in the field and in-depth interviews to understand the perspectives of the ahbab. In determining the research informants, the author used purposive sampling techniques, and the data obtained was analysed using Miles and Huberman's data analysis. The results of the study show that the reasons for ahbab joining Tablighi Jama’at are: wanting to experience the atmosphere of their previous environment, practising what they have learned, because Tablighi Jama’at does not question specific schools of thought and sects, the approach of Tablighi Jama’at as a means of learning Islam, finding something different in Tablighi Jama’at, protection within Tablighi Jama’at, and because Tablighi Jama’at does not differentiate between ahbab and the redemption of sins. These findings provide an understanding of various factors that motivate people to join a religious movement.
Kekerasan Anak di Tempat Penitipan Anak sebagai Patologi Sosial: Analisis Sosiologi Anak terhadap Disfungsi Lembaga Pengasuhan Deska Fitriyani; Suci Wahyu Fajriani; Mallia Hartani; Kurnia Asni Sari; Lisya Septiani Putri
Locus Journal of Academic Literature Review Vol 5 No 6 (2026): June
Publisher : LOCUS MEDIA PUBLISHING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56128/ljoalr.v5i6.968

Abstract

Artikel ini membahas kekerasan anak di Taman Penitipan Anak (TPA) atau daycare sebagai bentuk patologi sosial institusional. Kajian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kepustakaan dan analisis dokumen kualitatif. Data bersumber dari artikel ilmiah, regulasi, dokumen kebijakan, laporan lembaga perlindungan anak, serta pemberitaan media kredibel yang dianalisis melalui analisis isi dan analisis tematik. Hasil kajian menunjukkan bahwa kekerasan di daycare tidak dapat dipahami semata-mata sebagai penyimpangan individual pengasuh, tetapi sebagai gejala disfungsi institusi pengasuhan dalam menjalankan fungsi protektif, afektif, edukatif, dan kontrol sosial. Kekerasan tersebut berkaitan dengan relasi kuasa dewasa-anak, rendahnya kapasitas caregiver, lemahnya supervisi, tidak jelasnya mekanisme pelaporan, serta normalisasi kekerasan dalam budaya pengasuhan. Perspektif sosiologi anak menegaskan bahwa anak merupakan subjek sosial yang memiliki pengalaman, ekspresi, suara, dan hak untuk diakui. Oleh karena itu, pencegahan kekerasan di daycare memerlukan pembenahan kelembagaan melalui penguatan kapasitas pengasuh, SOP perlindungan anak, mekanisme pengaduan, pengawasan kolaboratif, keterlibatan orang tua, dan akuntabilitas lembaga. Kata kunci: Kekerasan anak, lembaga pengasuhan, patologi sosial, sosiologi anak, tempat penitipan anak (TPA)