Aisyah Putri Rahma Siregar
Universitas Pendidikan Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

DARI SIMBOL PERLAWANAN KE ISU DISINTEGRASI PADA PEMBERITAAN PENGIBARAN BENDERA ONE PIECE: ANALISIS WACANA KRITIS NORMAN FAIRCLOUGH Aisyah Putri Rahma Siregar; Andoyo Sastromiharjo; Encep Kusumah
Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 22 No 1 (2026)
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/fon.v22i1.476

Abstract

ABSTRAK: Studi ini mengkaji fenomena seputar pengibaran bendera One Piece salama perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia ke-80, menggunakan Analisis Wacana Kritis (CDA) Model Fairclough untuk mengeksplorasi implikasinya. Penelitian ini menyelidiki bagaimana peristiwa ini, yang awalnya merupakan simbol perlawanan, dibingkai sebagai ancaman potensi disintegrasi nasional oleh pemerintah melalui media massa. Studi ini menganalisis wacana masyarakat dan pemerintah dari media massa dan media sosial. Analisis berfokus pada tiga dimensi: teks, diskursus, dan praktik sosial-budaya. Analisis Tekstual mengidentifikasi pola linguistik dalam tanggapan pemerintah, mengkategorikannya sebagai represif, eduaktif, dan moderat. Dimensi diskursus menganalisis bagaimana media memproduksi wacana, sedangkan dimensi sosial-budaya mengkontekstualisasikan peristiwa dalam isu-isu nasionalisme, budaya populer, dan globalisasi yang lebih luas. Data dikumpulkan dari artikel berita online (Kompas.com, Detik.com, Antara News) dan platform sosial media (Instagram, TikTok, X) antara 1-17 Agustus. Temuan mengungkapkan bentrokan antara nasionalisme yang didukung negara dan ekspresi budaya populer. Wacana pemerintah menekankan pelanggaran hukum dan etika. sebaliknya, komentar masyarakat di media sosial menafsirkan peristiwa tersebut sebagai bentuk perlawanan simbolis. Studi ini menyimpulkan bahwa pembingkaian fenomena pengibaran bendera One Piece sebagai ancaman disintegrasi adalah konstruksi diskursif dari cerminan objektif dari realitas sosial masyarakat. ini menyoroti perlunya pendekatan yang lebih inklusif dari partisipatif terhadap identitas nasional di era demokrasi digital. KATA KUNCI: Analisis Wacana Kritis; Budaya Populer; Nasionalisme; Norman Fairclough   FROM A SYMBOL OF RESISTANCE TO THE ISSUE OF DISINTEGRATION IN THE REPORTING OF THE RAISING OF THE ONE PIECE FLAG: AN ANALYSIS OF FAIRCLOUGH'S CRITICAL DISCOURSE.   ABSTRACT: This study examines the phenomenon surrounding the raising of the One Piece flag during the celebration of Indonesia's 80th Independence Day, using the Fairclough Model's Critical Discourse Analysis (CDA) to explore its implications. This study investigates how this event, which was originally a symbol of resistance, was framed as a threat of potential national disintegration by the government through the mass media. This study analyzes public and government discourse from mass media and social media. The analysis focuses on three dimensions: text, discourse, and socio-cultural practices. Textual Analysis identifies linguistic patterns in government responses, categorizing them as repressive, educative, and moderate. The discourse dimension examines how the media produces discourse, while the socio-cultural dimension contextualizes events in issues of nationalism, popular culture, and broader globalization. Data was collected from online news articles (Kompas.com, Detik.com, Antara News) and social media platforms (Instagram, TikTok, X) between August 1-17. The findings reveal a clash between state-backed nationalism and popular cultural expressions. The government's discourse emphasizes violations of the law and ethics. Instead, public comments on social media interpreted the event as a form of symbolic resistance. This study concludes that the framing of the One Piece flag-raising phenomenon as a threat of disintegration is a discursive construction of an objective reflection of society's social reality. This highlights the need for a more inclusive approach from participatory to national identity in the era of digital democracy. KEYWORDS: Chitical Discourse Analysis; Pop Culture; Nationalism; Norman Fairclough