ABSTRAK: Mayoritas studi mengenai ritual bancakan berfokus pada makna ritualistik, solidaritas sosial, dan fungsi pelestarian budaya. Namun, film Sego Berkat merepresentasikan tradisi tersebut dalam nuansa mistis yang lebih kompleks. Artikel ini bertujuan menjelaskan bentuk mistifikasi bancakan dalam film Sego Berkat menggunakan kerangka semiotika struktural Roland Barthes. Metode penelitian bersifat kualitatif deskriptif dengan fokus pada simbol visual dan naratif untuk mengungkap proses mistifikasi ideologis dan pesan budaya dalam film. Analisis dilakukan dengan bantuan teori drama melalui sekuens naratif pada tiga tingkat makna: denotasi, konotasi, dan mitos. Hasil kajian menunjukkan bahwa Sego Berkat tidak hanya menggambarkan bancakan sebagai tradisi sosial, tetapi juga upaya membangun mitos spiritual. Pada level denotasi, bancakan adalah cara penyajian dan konsumsi makanan secara komunal. Pada level konotasi, bancakan bermakna perayaan kebersamaan, wujud syukur, dan upaya spiritual untuk memohon keselamatan berkah, doa, dan solidaritas, sedangkan pada level mitos, bancakan narasi ideologis tentang keharusan menjaga harmoni sosial dan spiritual melalui praktik berbagi untuk menjamin keberuntungan dan keselamatan. Dengan demikian, Bancakan memiliki makna yang lebih dari sekadar hidangan biasa, melainkan bertindak sebagai cerminan nilai spiritual dan kosmologi Jawa. Temuan ini menegaskan bahwa film tersebut mendorong penonton menginterpretasikan kembali tradisi melalui perspektif mistifikasi budaya. KATA KUNCI: Sega Berkat; Mistifikasi; Semiotika; Roland Barthes. THE MYSTIFICATION OF BANCAKAN IN THE RURAL JAVANESE WORLDVIEW IN THE FILM SEGO BERKAT ABSTRACT: While most studies on the bancakan ritual focus on social solidarity and cultural preservation, the film Sego Berkat presents this tradition with complex mystical nuances. This article aims to explain the mystification of bancakan in Sego Berkat using Roland Barthes’ structural semiotics. Employing a descriptive qualitative method, this study analyzes visual and narrative symbols to uncover ideological mystification and cultural messages. The analysis utilizes drama theory to examine narrative sequences across three levels of meaning: denotation, connotation, and myth. The results indicate that Sego Berkat portrays bancakan not merely as a social tradition but as an effort to construct a spiritual myth. At the denotative level, bancakan is communal dining. Connotatively, it signifies togetherness, gratitude, and spiritual pleas for blessings and solidarity. At the level of myth, it becomes an ideological narrative emphasizing the necessity of maintaining social and spiritual harmony through sharing to ensure safety. Thus, bancakan transcends ordinary food consumption, serving as a reflection of Javanese spiritual values and cosmology. These findings confirm that the film encourages the audience to reinterpret tradition through the perspective of cultural mystification. KEYWORDS: Sega Berkat; Mistifikasi; Semiotika; Roland Barthes.