Rahmi Juwita
Universitas Negeri Makassar

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Persepsi Masyarakat Terhadap Nilai-Nilai Sosial Budaya Tradisi Bulo Jappa Di Desa Jipang Kecamatan Bontonompo Selatan Kabupaten Gowa Indah Putri; Muhammad Syukur; Rahmi Juwita
Jurnal Sosialisasi: Jurnal Hasil Pemikiran, Penelitian dan Pengembangan Keilmuan Sosiologi Pendidikan Volume 13, Nomor 1 Maret 2026
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/sosialisasi.v1i1.76259

Abstract

Diera modernisasi, budaya mengalami perkembangan baik dari segi intelektual, spiritual maupun estetis. Namun hal tersebut dapat mengikis nilai-nilai sosial dan warisan budaya masyarakat mulai memudar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui; 1) Persepsi masyarakat terhadap nilai-nilai sosial tradisi Bulo Jappa di Desa Jipang Kecamatan Bontonompo Selatan Kabupaten Gowa dan 2) Proses pelaksanaan tradisi Bulo Jappa di Desa Jipang Kecamatan Bontonompo Selatan Kabupaten Gowa. Jenis penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriprif. Informan penelitian berjumlah 10 orang yang ditentukan melalui teknik purposive sampling dengan kriteria informan yaitu 1) Pemangku adat yang sering dimintai pendapat tentang proses pelaksaanaan tradisi Bulo Jappa, 2) Tokoh agama yang pernah terlibat dalam pelaksanaan tradisi, 3) Masyarakat umum yang meyaksikan tradisi 4) Orang yang bernazar, 5) Generasi muda. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Uji keabsahan data yaitu menggunakan triangulasi sumber. Untuk analisis data melalui kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil dari penelitian menunjukkan beberapa persepsi masyarakat Desa Jipang Kecamatan Bontonompo Selatan Kabupaten Gowa yaitu diantaranya a) Tokoh adat memaknai Bulo Jappa sebagai warisan leluhur dan simbol identitas budaya yang harus dilestarikan; b) Tokoh agama mengapresiasi nilai syukur dan kebersamaan, namun mengkritisi unsur mistik seperti sumur Bungung Barania bambu sakral dan fenomena kesurupan; c) Tokoh masyarakat dan pelaksana nazar memandang tradisi ini sebagai sarana gotong royong dan silaturahmi lintas generasi; d) Tokoh pendidikan serta generasi muda memandang tradisi ini sebagai sarana edukasi budaya yang memperkuat karakter dan identitas generasi.  Pelaksanaan tradisi terdiri dari dua tahap yaitu: a) Tahap pra pelaksanaan; b) Tahap pelaksanaan tradisi yang melibatkan berbagai rangkaian ritual tradisi seperti mengarak bambu, Angngaru, A’rate, dan Appalili (prosesi mengelilingi kampung)