Agung Priyono
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Analisis Teologi Ta’alluq Qudrah dan Iradah Dalam Perspektif Ilmu Kalam Klasik Dalam Perspektif Studi Kitab Syaikh Abdurrahman Siddik Najwa Pratiwi; Agung Priyono
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 3 No. 2 (2026): AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/r0myjg21

Abstract

This study examines in depth the concepts of ta'alluq qudrah and iradah Allah in the classical theological tradition of Kalam, emphasizing the thoughts of Shaykh Abdurrahman Siddiq. The background of this study departs from the tendency of modern theological studies to emphasize the normative aspects of God's power and will, without philosophically elaborating the theory of ta'alluq. As a result, the relationship between God's eternal attributes and the temporal reality of creatures is often understood vaguely and simplistically. This study aims at three things: first, to explain the concept of ta'alluq from a classical theological perspective; second, to analyze how the relationship between Allah's qudrah and iradah with the events of creatures is understood without causing changes to His essence and attributes; and third, to reveal its theological implications for the understanding of human responsibility. The method used is qualitative research based on library research with a descriptive-analytical approach. Data were collected through a review of classical Kalam texts, then analyzed using content analysis techniques to find relevant patterns of thought. The research results show that the concept of ta'alluq serves as a conceptual bridge that explains the relationship between God's eternal attributes and new events without necessitating changes in His essence. Furthermore, there is a clear distinction between qudrah, God's absolute power, and the realization of events, and between iradah (will) and ridha (consent) of God. This distinction emphasizes the balance between God's omnipotence and human freedom and moral responsibility in action. Abstrak Penelitian ini mengkaji secara mendalam konsep ta’alluq qudrah dan iradah Allah dalam tradisi teologi Ilmu Kalam klasik dengan menitikberatkan pada pemikiran Syaikh Abdurrahman Siddiq. Latar belakang penelitian ini berangkat dari kecenderungan kajian teologi modern yang lebih menekankan aspek normatif mengenai kekuasaan dan kehendak Tuhan, tanpa mengelaborasi secara filosofis teori ta’alluq. Akibatnya, relasi antara sifat-sifat Allah yang bersifat azali dengan realitas makhluk yang temporal kerap dipahami secara kabur dan simplistik. Penelitian ini bertujuan tiga hal, pertama untuk menjelaskan konsep ta’alluq dalam perspektif teologi klasik, kedua menganalisis bagaimana hubungan antara qudrah dan iradah Allah dengan peristiwa makhluk dipahami tanpa menimbulkan perubahan pada dzat dan sifat-Nya, ketiga mengungkap implikasi teologisnya terhadap pemahaman tanggung jawab manusia. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif berbasis studi kepustakaan (library research) dengan pendekatan deskriptif-analitis. Data dikumpulkan melalui penelaahan teks-teks klasik Ilmu Kalam, kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis isi untuk menemukan pola pemikiran yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep ta’alluq berfungsi sebagai jembatan konseptual yang menjelaskan keterkaitan antara sifat-sifat azali Allah dengan kejadian-kejadian baru tanpa meniscayakan perubahan pada dzat-Nya. Selain itu, terdapat pembedaan yang jelas antara qudrah sebagai kekuasaan mutlak Allah dan realisasi peristiwa, serta antara iradah (kehendak) dan ridha (kerelaan) Allah. Pembedaan ini menegaskan keseimbangan antara kemahakuasaan Tuhan dan kebebasan serta tanggung jawab moral manusia dalam bertindak.