Muhammad Romadhon
Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

MUNASABAH DALAM TAFSIR SURAT AL-IKHLAS KARYA K.H. AHMAD YASIN BIN ASYMUNI Abdur Rahman Nor Afif Hamid; Muhammad Romadhon; Aviyah Asmaul Husna
Halaqah: Journal of Multidisciplinary Islamic Studies Vol 2 No 1 (2025): Halaqah: Journal of Multidisciplinary Islamic Studies
Publisher : LP2M STIK KENDAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62509/hjis.v2i1.200

Abstract

Kitab Tafsir Surat al-Ikhlas karya KH. Ahmad Yasin bin Asymuni menawarkan pendekatan yang khas dengan penekanan pada aspek munasabah, yaitu hubungan antar ayat dalam surah tersebut. Sebagai ulama yang produktif, KH. Yasin menyajikan tafsir yang mendalam melalui analisis munasabah yang jarang ditemukan dalam tafsir Indonesia. Buku ini memiliki sistematika yang memudahkan pembaca memahami hubungan antar ayat Al-Qur'an, khususnya dalam konteks Surat al-Ikhlas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aspek munasabah dalam Tafsir Surat al-Ikhlas karya KH. Yasin dan mengeksplorasi kontribusinya terhadap pengembangan tafsir di Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan studi pustaka, di mana data utama diperoleh dari kitab Tafsir Surat al-Ikhlas. Hasil penelitian menunjukkan adanya dua jenis munasabah dalam Surat al-Ikhlas, yakni munasabah antar ayat dalam satu surah dan munasabah antar kata atau kalimat dalam satu ayat. Keunggulan tafsir ini terletak pada (a) penyajian penjelasan munasabah dalam bab terpisah, (b) penjelasan yang singkat namun jelas, dan (c) pengutipan munasabah dari dua tafsir yang berbeda, sehingga memperkaya cakupan dan kedalaman tafsir. KH. Yasin juga menjelaskan empat faedah, dua faedah pertama membahas hubungan antar ayat yang saling menguatkan, faedah ketiga menyoroti pendekatan surah dalam menangkal kemusyrikan dan ajaran teologi yang menyimpang, serta faedah keempat menegaskan kebenaran Allah dan pentingnya penggunaan kata "قل" untuk menegaskan kebenaran tersebut. Bagian kedua membahas aspek tasawuf dengan penjelasan mendalam tentang ketuhanan, serta menegaskan bahwa Allah tidak melahirkan, tidak dilahirkan, dan tidak ada yang serupa dengan-Nya.
MUNASABAH DALAM TAFSIR SURAT AL-IKHLAS KARYA K.H. AHMAD YASIN BIN ASYMUNI Abdur Rahman Nor Afif Hamid; Muhammad Romadhon; Aviyah Asmaul Husna
Halaqah: Journal of Multidisciplinary Islamic Studies Vol 2 No 1 (2025): Halaqah: Journal of Multidisciplinary Islamic Studies
Publisher : LP2M STIK KENDAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62509/hjis.v2i1.200

Abstract

Kitab Tafsir Surat al-Ikhlas karya KH. Ahmad Yasin bin Asymuni menawarkan pendekatan yang khas dengan penekanan pada aspek munasabah, yaitu hubungan antar ayat dalam surah tersebut. Sebagai ulama yang produktif, KH. Yasin menyajikan tafsir yang mendalam melalui analisis munasabah yang jarang ditemukan dalam tafsir Indonesia. Buku ini memiliki sistematika yang memudahkan pembaca memahami hubungan antar ayat Al-Qur'an, khususnya dalam konteks Surat al-Ikhlas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aspek munasabah dalam Tafsir Surat al-Ikhlas karya KH. Yasin dan mengeksplorasi kontribusinya terhadap pengembangan tafsir di Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan studi pustaka, di mana data utama diperoleh dari kitab Tafsir Surat al-Ikhlas. Hasil penelitian menunjukkan adanya dua jenis munasabah dalam Surat al-Ikhlas, yakni munasabah antar ayat dalam satu surah dan munasabah antar kata atau kalimat dalam satu ayat. Keunggulan tafsir ini terletak pada (a) penyajian penjelasan munasabah dalam bab terpisah, (b) penjelasan yang singkat namun jelas, dan (c) pengutipan munasabah dari dua tafsir yang berbeda, sehingga memperkaya cakupan dan kedalaman tafsir. KH. Yasin juga menjelaskan empat faedah, dua faedah pertama membahas hubungan antar ayat yang saling menguatkan, faedah ketiga menyoroti pendekatan surah dalam menangkal kemusyrikan dan ajaran teologi yang menyimpang, serta faedah keempat menegaskan kebenaran Allah dan pentingnya penggunaan kata "قل" untuk menegaskan kebenaran tersebut. Bagian kedua membahas aspek tasawuf dengan penjelasan mendalam tentang ketuhanan, serta menegaskan bahwa Allah tidak melahirkan, tidak dilahirkan, dan tidak ada yang serupa dengan-Nya.
Reinterpretasi kata Auliya’ QS. al-Maidah ayat 51 Perspektif Hans-George Gadamer Muhammad Romadhon; Nurmiah; Nor Afif Hamid; Aviah Asmaul Husna
At-Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 6 No. 1 (2024): Desember 2024
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53649/at-tahfidz.v6i1.2322

Abstract

Keyakinan bahwa al-Qur’an bersifat ṣāliḥ li kulli al-zamān wa al-makān menuntut adanya pembacaan yang mampu menghubungkan pesan teks dengan realitas sosial yang terus berubah. Q.S. al-Māidah (5): 51 merupakan salah satu ayat yang paling sering menimbulkan kontroversi, terutama ketika dihubungkan dengan isu kepemimpinan non-Muslim di masyarakat majemuk seperti Indonesia. Pemaknaan tekstual-literal terhadap istilah auliya’ kerap berubah menjadi justifikasi eksklusivisme politik dan polarisasi sosial, padahal kajian tafsir klasik maupun kontemporer menunjukkan bahwa istilah tersebut memiliki spektrum makna yang luas meliputi pelindung, sekutu, penolong, sahabat dekat, dan pemimpin yang diikuti secara loyal serta terkait erat dengan konteks aliansi politik-militer pada masa turunnya ayat di Madinah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan desain studi kepustakaan dan menerapkan kerangka hermeneutika filosofis Hans-Georg Gadamer untuk menelaah kembali Q.S. al-Māidah (5): 51 melalui konsep effective history (Wirkungsgeschichte), pre-understanding, dan fusion of horizons. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Q.S. al-Māidah (5:51), ketika ditafsirkan melalui hermeneutika filosofis Hans-Georg Gadamer, tidak dapat dijadikan dasar penolakan kepemimpinan atau kerja sama dengan non-Muslim. Sebaliknya, ayat ini berfungsi sebagai pedoman etis untuk menjaga integritas politik, otonomi nilai, dan kemaslahatan kolektif umat. Analisis berbasis effective history, pre-understanding, dan fusion of horizons mengungkap bahwa keragaman tafsir klasik dan kontemporer atas istilah auliya’ yang mencakup pelindung, sekutu, penolong, sahabat dekat, hingga pemimpin yang diikuti secara loyal selalu dibentuk oleh horizon historis-kultural penafsir, mulai dari tradisi fikih hingga pengalaman konflik dan dinamika kekuasaan. Fusi antara konteks politik-militer Madinah dan realitas Indonesia sebagai negara plural menghasilkan pemurnian pra-pemahaman yang menggeser fokus etis ayat dari larangan berbasis identitas menuju kewaspadaan terhadap bentuk aliansi politik yang merusak keadilan, kemandirian komunitas, dan kohesi sosial. Dengan demikian, ayat ini menegaskan etika relasi kekuasaan yang adil, moderat, dan selaras dengan spirit rahmat al-Qur’an, bukan justifikasi bagi eksklusivisme politik.