Ida Ayu Karina Adityanti Manuaba
Program Studi Psikologi, Fakultas Humaniora dan Ilmu Sosial, Universitas Bali Dwipa

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

PERBEDAAN PENGGUNAAN EMOTION-FOCUSED COPING PADA MAHASISWA RANTAU DI DENPASAR Petrasia Desembris Nuwa; Ida Ayu Karina Adityanti Manuaba; I Gusti Agung Ayu Yunita Utami
Journal of Innovation Research and Knowledge Vol. 5 No. 11 (2026): April 2026
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan penggunaan emotion-focused coping antara mahasiswa rantau laki-laki dan perempuan di Denpasar. Mahasiswa rantau menghadapi berbagai tuntutan adaptasi akademik, sosial, dan emosional yang berpotensi menimbulkan stres. Dalam kondisi tersebut, diperlukan strategi coping yang adaptif, salah satunya emotion-focused coping (EFC), yaitu upaya individu dalam mengelola respons emosional terhadap stresor. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain komparatif. Subjek penelitian adalah mahasiswa rantau yang sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi di Denpasar. Teknik pengambilan sampel menggunakan non-probability sampling dengan penyebaran kuesioner secara daring. Instrumen penelitian berupa skala emotion-focused coping yang disusun berdasarkan teori Lazarus dan Folkman yang mencakup enam aspek, yaitu distancing, escape-avoidance, self-controlling, accepting responsibility, positive reappraisal, dan seeking social emotional support. Analisis data dilakukan menggunakan uji perbedaan untuk mengetahui signifikansi perbedaan antar kelompok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam penggunaan emotion-focused coping antara mahasiswa laki-laki dan perempuan. Temuan ini mengindikasikan bahwa pengalaman perantauan menjadi faktor yang lebih dominan dibandingkan jenis kelamin dalam memengaruhi strategi coping. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam pengembangan layanan konseling yang responsif terhadap kebutuhan mahasiswa rantau.