Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Quality of life and physical activity participation in adolescent girls with idiopathic scoliosis treated with bracing Ellysa Okky Gusma; Gatot Sunarto; Gian Lisuari Adityasiwi; Nathan Agwin Khenda; Nicolas Adi Perdana Susanto
Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada Vol. 15 No. 1 (2026): Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada
Publisher : LPPM Politeknik Sandi Karsa, South Sulawesi, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35816/jiksh.v15i1.203

Abstract

Introduction: Adolescent idiopathic scoliosis (AIS) is a common musculoskeletal condition that predominantly affects adolescent girls and often requires prolonged brace treatment. Although bracing is effective in preventing curve progression, it may negatively influence physical comfort, emotional well-being, and psychosocial functioning. Quality of life has therefore become an essential outcome in the management of AIS. Physical activity, particularly swimming, is frequently recommended as a safe form of exercise for adolescents with scoliosis; however, evidence on its association with quality of life during brace treatment remains limited. Research Methodology: This study employed a quantitative cross-sectional design involving 50 adolescent girls aged 10–18 years diagnosed with idiopathic scoliosis and undergoing brace treatment for at least six months. Participants were selected using purposive sampling. Quality of life was assessed using the Brace Questionnaire (BrQ), covering eight domains. Physical activity participation was measured by swimming frequency and categorised as low (1–2 times/week) or high (≥3 times/week). Data were analysed using univariate statistics, independent t-tests, and multivariate regression analysis. Results: The mean total quality-of-life score indicated a moderate level of quality of life among participants. Higher participation in physical activity was significantly associated with better physical and emotional functioning, vitality, and overall quality of life (p < 0.05). Adolescents who swam three or more times per week had higher total quality-of-life scores than those who swam fewer times per week. No significant differences were observed in self-esteem and social functioning domains. Conclusion: Regular physical activity, particularly swimming, is positively associated with improved quality of life among adolescent girls with idiopathic scoliosis undergoing brace treatment. Integrating safe physical activity promotion into conservative scoliosis management may enhance both physical and psychosocial well-being.
OPTIMALISASI PERAN TIM KESEHATAN MULTIDISIPLIN DALAM PENINGKATAN DERAJAT KESEHATAN MASYARAKAT DI GKJ KETANDAN KABUPATEN KLATEN: Optimizing the Role of Multidisciplinary Healthcare Teams to Enhance Community Health Outcomes at GKJ Ketandan Klaten Regency Nicholas Adi Perdana; Hana Kristina; Ethic Palupi; Gian Lisuari Adityasiwi; Ellysa Okky Gusma; Nathan Agwin Khenda; Yohanes Purwanto; Heru Purbo Kuntono
JAMAS : Jurnal Abdi Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2026)
Publisher : Forind Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62085/jms.v4i1.238

Abstract

Penyakit Tidak Menular (PTM) merupakan masalah kesehatan utama dengan prevalensi yang terus meningkat dan berdampak signifikan terhadap penurunan kualitas hidup, khususnya pada kelompok usia dewasa dan lanjut usia. Kondisi ini memerlukan penguatan pelayanan kesehatan promotif dan preventif berbasis komunitas melalui pendekatan multidisiplin. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan mengoptimalkan peran tim kesehatan multidisiplin dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat GKJ Ketandan Kabupaten Klaten. Metode yang digunakan adalah pelayanan kesehatan terpadu berbasis komunitas yang melibatkan tenaga keperawatan dan fisioterapi. Intervensi meliputi skrining kesehatan dasar (tekanan darah dan gula darah), edukasi dan konseling kesehatan, skrining keseimbangan dan fungsi gerak, pemberian program latihan mandiri, serta promosi aktivitas fisik. Evaluasi dilakukan melalui analisis deskriptif dan analitik terhadap hasil pemeriksaan kesehatan peserta. Sebanyak 83 peserta terlibat dengan rerata usia 59,94 ± 11,43 tahun. Hasil menunjukkan prevalensi hipertensi sebesar 50,6%, diabetes sebesar 36,1%, dan gangguan keseimbangan sebesar 65,1%. Analisis menunjukkan bahwa usia berhubungan signifikan dengan gangguan keseimbangan (p < 0,05), sementara variabel klinis lainnya tidak menunjukkan hubungan bermakna. Kegiatan ini membuktikan bahwa optimalisasi peran tim kesehatan multidisiplin efektif dalam deteksi dini faktor risiko PTM dan permasalahan fungsional, serta berpotensi menjadi model pelayanan kesehatan komunitas yang berkelanjutan.
MODEL LAYANAN FISIOTERAPI BERBASIS MOBIL UNTUK UPAYA PROMOTIF, PREVENTIF, KURATIF, DAN REHABILITATIF DI MASYARAKAT: Mobile-Based Physiotherapy Service Model for Promotive, Preventive, Curative, and Rehabilitative Efforts in the Community Ellysa Okky Gusma; Gian Lisuari Adityasiwi; Hana Kristina; Heru Purbo Kuntono; Nicholas Adi Perdana; Nathan Agwin Khenda; Yohanes Purwanto
JAMAS : Jurnal Abdi Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2026)
Publisher : Forind Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62085/jms.v4i1.242

Abstract

Keterbatasan akses terhadap layanan fisioterapi di tingkat komunitas masih menjadi persoalan nyata, terutama bagi masyarakat dewasa dan lanjut usia dengan berbagai keluhan fungsi gerak. Kondisi ini menuntut model pelayanan fisioterapi yang lebih adaptif, mudah diakses, dan berbasis kebutuhan komunitas. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan untuk menerapkan dan mengevaluasi model layanan fisioterapi berbasis mobil sebagai strategi perluasan akses pelayanan fisioterapi komunitas. Kegiatan dilaksanakan melalui tahapan edukasi dan penyuluhan kesehatan, skrining dan asesmen fisioterapi, pemberian tindakan fisioterapi sesuai kebutuhan individu, konseling latihan mandiri, serta rekomendasi rujukan dan tindak lanjut. Pelaksanaan kegiatan dilakukan di pelataran Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta dan diikuti oleh 62 peserta masyarakat umum. Evaluasi kegiatan dilakukan menggunakan kuesioner kepuasan dengan skala Likert 1–5. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa mayoritas peserta berusia ≥60 tahun (58,0%) dengan variasi keluhan fungsi gerak, yang didominasi oleh nyeri muskuloskeletal (59,7%), diikuti gangguan sirkulasi dan metabolik (30,6%) serta keluhan neuromuskular (9,7%). Evaluasi kepuasan menunjukkan tingkat penerimaan yang sangat baik terhadap layanan fisioterapi berbasis mobil, di mana 90% peserta menilai aksesibilitas layanan sangat baik dan lebih dari 92% peserta memberikan penilaian sangat baik terhadap kualitas pelayanan, keterampilan tenaga fisioterapi, serta sikap dan komunikasi petugas. Disimpulkan bahwa model layanan fisioterapi berbasis mobil dapat diterima dengan sangat baik oleh masyarakat dan menunjukkan potensi sebagai alternatif pelayanan fisioterapi komunitas yang mampu menjangkau beragam keluhan fungsi gerak dalam mendukung upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif di tingkat masyarakat.