Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ANALISIS PENGARUH RENDAHNYA LITERASI DIGITAL ORANG TUA TERHADAP KARAKTER DAN ARAH PENDIDIKAN ANAK DI ERA DIGITAL Imam Teguh Santoso; Artha Firril Muna; Nur Azizah; Salma Nazwa Fauziah; Samuel Indrawan
ARIMA : Jurnal Sosial Dan Humaniora Vol. 3 No. 1 (2025): Agustus
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/arima.v3i1.5259

Abstract

Transformasi digital yang masif di era modern berdampak besar pada pola asuh, pendidikan, dan pembentukan karakter. Anak-anak kini tumbuh dalam lingkungan yang sangat dipengaruhi oleh teknologi informasi dan komunikasi, sehingga peran orang tua sebagai pendidik utama semakin krusial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh rendahnya literasi digital orang tua terhadap pembentukan karakter dan arah pendidikan anak di era digital. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui studi literatur, penelitian ini mengungkapkan bahwa rendahnya literasi digital orang tua menyebabkan lemahnya pengawasan terhadap aktivitas daring anak, pola asuh yang permisif, dan kurangnya keteladanan dalam penggunaan teknologi. Anak-anak cenderung terpapar konten yang tidak edukatif dan mengalami penurunan aspek sosial-emosional, moral, dan kedisiplinan. Selain itu, rendahnya pemahaman orang tua terhadap fungsi edukatif media digital memperburuk arah pendidikan anak di rumah. Oleh karena itu, peningkatan literasi digital orang tua menjadi langkah strategis dalam membangun pola pengasuhan yang adaptif, edukatif, dan kontekstual agar dapat mendukung perkembangan karakter anak secara optimal di tengah arus digitalisasi.   
Penerapan Media Sosial Untuk Pembelajaran Literasi Pada Pelajaran Bahasa Indonesia Asyam Sholikhul Hadi; Nur Azizah; Rahayu Pristiwati; Meina Febriani
JPNM Jurnal Pustaka Nusantara Multidisiplin Vol. 4 No. 2 (2026): May : Jurnal Pustaka Nusantara Multidisiplin (ACCEPTED)
Publisher : SM Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59945/jpnm.v4i2.1196

Abstract

Evolusi pendidikan di era Society 5.0 menuntut transformasi paradigma pembelajaran Bahasa Indonesia dari model tradisional menuju integrasi ekosistem digital yang dinamis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan media sosial sebagai sarana pembelajaran literasi, mengidentifikasi tantangan yang muncul, serta merumuskan strategi mitigasi pedagogis yang relevan bagi pendidik. Menggunakan metode studi pustaka atau Systematic Literature Review (SLR), riset ini menyintesis berbagai literatur akademik dari basis data terakreditasi dalam rentang waktu 2021–2026. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan platform seperti Instagram, TikTok, YouTube, dan X (Twitter) secara signifikan mampu meningkatkan motivasi intrinsik dan partisipasi aktif siswa. Berdasarkan landasan Teori Konektivisme dan Multimodalitas, media sosial mentransformasi peran siswa dari konsumen pasif menjadi pencipta pengetahuan (prosumer). Platform Instagram dan TikTok efektif untuk melatih keterampilan menulis kreatif serta berbicara performatif melalui fitur video pendek dan visual. Sementara itu, YouTube dan X mendukung pengembangan kemampuan menyimak kritis serta penyusunan argumen yang logis dan kohesif. Namun, integrasi ini menghadapi hambatan serius berupa distraksi kognitif akibat algoritma konten hiburan, degradasi kualitas kebahasaan (penyimpangan PUEBI), ancaman perundungan siber (cyberbullying), dan kesenjangan akses infrastruktur digital. Sebagai solusi, penelitian ini merekomendasikan strategi "walled-garden pedagogy" melalui penggunaan fitur privasi, penetapan kontrak etika digital (netiket), serta standardisasi rubrik penilaian yang memberikan bobot seimbang pada aspek gramatikal, substansi nalar, dan kreativitas multimodal. Sinergi lintas disiplin antara guru Bahasa Indonesia, PPKn, dan TIK menjadi kunci untuk membentuk ekosistem literasi yang inklusif dan tangguh. Simpulannya, media sosial yang dikelola dengan mitigasi risiko yang presisi dapat menjadi sekutu strategis dalam mengatasi krisis literasi nasional dan menyiapkan generasi yang kritis di era pascakebenaran (post-truth).