Latar Belakang: Tenaga promosi kesehatan memiliki peran penting untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menjalani gaya hidup sehat. Sehingga, kompetensi mereka juga perlu diperkuat terutama dalam aspek digital agar mampu menjawab tantangan promosi kesehatan di era teknologi. Tujuan: Mengevaluasi kesenjangan kompetensi digital tenaga promosi kesehatan sebagai dasar analisis kebutuhan pelatihan dalam mendukung pelaksanaan peran penyuluhan kesehatan di Provinsi NTB. Metode: Penelitian ini menggunakan desain mixed methods deskriptif, di mana data kuantitatif digunakan untuk memetakan tingkat kompetensi digital dan kebutuhan pelatihan, sedangkan data kualitatif digunakan untuk menggali secara mendalam pengalaman dan tantangan tenaga promosi kesehatan dalam menjalankan peran penyuluhan kesehatan. Hasil: Kebutuhan pengembangan tenaga promosi kesehatan bersifat multidimensional. Sebanyak 51% responden menyatakan butuh pelatihan terstruktur, 49% membutuhkan peningkatan kompetensi, dan 47% membutuhkan peningkatan keterampilan teknis, responden dapat memilih lebih dari satu kategori kebutuhan. Bidang pelatihan yang paling dibutuhkan meliputi literasi digital dan keterampilan pengelolaan media sosial kesehatan (50%), kemampuan public speaking (40%), serta kompetensi advokasi kebijakan kesehatan (10%). Adapun keterampilan media yang secara spesifik dibutuhkan mencakup desain grafis dasar (40%), pembuatan video edukasi kesehatan (40%), manajemen media sosial (10%), editing audio (5%), dan pembuatan animasi sederhana (5%). Sementara itu, keterbatasan kompetensi digital, rendahnya pemanfaatan teknologi dalam kegiatan promosi kesehatan, serta keterbatasan alat bantu dan sarana pendukung menjadi gambaran utama kondisi kompetensi tenaga promosi kesehatan saat ini. Kesimpulan: Adanya kesenjangan signifikan antara kompetensi digital yang dimiliki tenaga promkes dan tuntutan peran mereka dalam pelaksanaan promosi kesehatan berbasis teknologi di Provinsi NTB. Kesenjangan tersebut terutama terlihat pada aspek literasi digital, komunikasi publik, dan pemanfaatan media digital kesehatan. Implikasi praktis dari temuan ini adalah perlunya perencanaan program pelatihan yang lebih terarah dan berbasis kebutuhan nyata, dengan prioritas pada penguatan literasi digital, keterampilan komunikasi kesehatan, serta produksi konten media edukatif. Pemerintah daerah dan organisasi profesi perlu menjadikan hasil penelitian ini sebagai dasar dalam penyusunan kurikulum pelatihan dan alokasi sumber daya pengembangan kapasitas tenaga promosi kesehatan guna meningkatkan efektivitas layanan promosi kesehatan di NTB.