Latar Belakang: Masalah gizi pada bayi masih menjadi isu kesehatan prioritas di Indonesia. Wilayah kerja Puskesmas Kassi-Kassi mencatat prevalensi stunting 22,92% pada tahun 2024. ASI eksklusif menjadi intervensi kunci pada periode 1000 HPK, namun cakupannya masih berfluktuasi dan faktor yang memengaruhi praktik menyusui belum banyak diteliti secara lokal. Tujuan: Menilai hubungan pemberian ASI eksklusif dengan status gizi bayi usia 6–12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Kassi-Kassi Kota Makassar tahun 2025. Metode: Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan desain cross-sectional. Sampel terdiri dari 120 ibu dan bayi yang dipilih menggunakan perhitungan besar sampel dengan rumus Slovin berdasarkan populasi terjangkau. Data dikumpulkan melalui kuesioner BSES-SF, lembar observasi, dan data sekunder puskesmas. Analisis dilakukan menggunakan uji Chi-square dan stratifikasi berdasarkan efikasi diri menyusui, keterpaparan informasi, pekerjaan ibu, serta pendapatan keluarga menggunakan Aplikasi JASP. Hasil: Pemberian ASI eksklusif menunjukkan hubungan signifikan dengan status gizi bayi (p = 0,029). Analisis stratifikasi menunjukkan hubungan signifikan pada kelompok ibu dengan efikasi diri cukup (p = 0,008), keterpaparan informasi baik (p = 0,012), dan ibu tidak bekerja (p = 0,018). Pendapatan keluarga tidak menunjukkan hubungan signifikan. Proporsi gizi baik lebih tinggi pada bayi yang memperoleh ASI eksklusif (91,4%) dibandingkan bayi tanpa ASI eksklusif (74,0%). Kesimpulan: Pemberian ASI eksklusif berhubungan dengan status gizi bayi usia 6–12 bulan, terutama ketika didukung kapasitas ibu dan lingkungan yang mendukung praktik menyusui. Penguatan edukasi, dukungan keluarga, dan kebijakan ramah ibu menyusui diperlukan untuk meningkatkan cakupan ASI eksklusif.