Latar Belakang: Body shaming merupakan stresor sosial yang kerap dinormalisasi dalam relasi dekat dan berpotensi memicu distress serta coping berisiko pada remaja perempuan usia 18–24 perempuan. Tujuan: Penelitian ini mengeksplor body shaming sebagai stresor pada remaja perempuan di Kota Palu melalui proses primary–secondary appraisal, strategi coping, dan dampak psikologisnya. Metode: Penelitian kualitatif dengan desain studi kasus menggunakan kerangka Transactional Model of Stress and Coping. Informan berjumlah 17 remaja perempuan usia 18–24 tahun yang pernah mengalami body shaming, direkrut secara purposive dan snowball sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur dan dianalisis dengan analisis tematik. Hasil: Body shaming dialami sebagai stresor relasional yang berulang, terutama dari teman sebaya dan keluarga. Pada primary appraisal, pengalaman awal dimaknai sebagai candaan namun berkembang menjadi ancaman terhadap harga diri ketika terjadi berulang. Secondary appraisal menunjukkan keterbatasan sumber daya coping, sehingga strategi yang digunakan didominasi emotion-focused coping, dengan sebagian informan melakukan problem-focused coping berupa kontrol tubuh pada spektrum adaptif hingga maladaptif. Dampak yang muncul meliputi distress berkelanjutan, ruminasi, gangguan tidur dan pola makan, serta penarikan sosial. Kesimpulan: Body shaming berfungsi sebagai stresor sosial persisten yang membentuk lintasan appraisal coping menuju luaran psikologis merugikan. Perlunya intervensi promotif-preventif melalui penguatan norma anti–body shaming serta dukungan sebaya dan konseling ramah remaja guna mendorong coping adaptif.