Latif Kusairi
UIN Raden Mas Said Surakarta, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Tantangan Pendidikan pada Masa Pandemi Covid-19: (Studi Masyarakat Tariwetan, Sumber, Simo Boyolali) Latif Kusairi; Hafsoh Meitakiyah
Kerigan: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 1 No. 2 (2023)
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/kjpm.2023.1.2.79-96

Abstract

Purpose: Pandemi Covid-19 memaksa seluruh aktivitas pendidikan di Indonesia beralih ke sistem daring sebagai upaya mencegah penyebaran virus melalui kerumunan. Namun, peralihan ini tidak lepas dari kendala, terutama di wilayah pedesaan. Penelitian ini bertujuan untuk menggali pengalaman masyarakat Dusun Tariwetan, Desa Sumber, Kecamatan Simo, Boyolali dalam melaksanakan pendidikan daring, serta mengidentifikasi hambatan utama yang mereka hadapi. Method: Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam. Informan penelitian terdiri dari masyarakat Tariwetan, baik orang tua maupun peserta didik, yang secara langsung merasakan dampak pembelajaran daring selama pandemi. Practical Applications: Hasil penelitian menunjukkan bahwa hambatan utama meliputi keterbatasan sinyal internet, ketidakmampuan membeli paket data, kurangnya literasi digital, serta ketiadaan perangkat elektronik yang memadai. Untuk mengatasi masalah tersebut, sejumlah solusi lokal diterapkan, seperti penyediaan akses WiFi gratis di balai desa, bimbingan belajar umum dan agama oleh mahasiswa maupun masyarakat, serta kebijakan sekolah yang lebih fleksibel, misalnya guru mendatangi rumah siswa atau sistem penyerahan tugas seminggu sekali. Solusi ini membantu menjaga kesinambungan proses pendidikan meski dalam keterbatasan. Conclusion: Penelitian ini menyimpulkan bahwa pendidikan daring di pedesaan menghadapi tantangan struktural dan teknis yang cukup besar. Namun, kolaborasi antara masyarakat, pemerintah desa, dan sekolah mampu menghasilkan strategi adaptif untuk memastikan hak belajar siswa tetap terpenuhi. Pendekatan ini dapat dijadikan model alternatif bagi daerah lain dengan kondisi serupa.