Saat ini pekerjaan konstruksi di Indonesia, khususnya pada pekerjaan pelat lantai masih menjadi pilihan pertama yang digunakan yaitu penggunaan struktur konvensional. Hal ini karena kemudahan dalam pengerjaannya dan sangat umum digunakan. Akan tetapi, penggunaan pelat konvensional memberikan dukungan struktural yang minim dan menambah beban sendiri yang besar pada bangunan. Untuk peningkatan kualitas pekerjaan konstruksi tersebut, diperkenalkan pelat beton bertulang yang mengandung bola plastik gelembung yang juga dikenal sebagai bubbledeck slab. Tujuan penelitian yang dilakukan merupakan perbandingan bubbledeck slab dan pelat konvensional pada bangunan rumah susun untuk mengetahui perbedaan berat bangunan, simpangan antar tingkat, dan hasil tingkat kinerja struktur yang terjadi. Analisis struktur dilakukan menggunakan metode pushover sesuai dengan standar SNI 1726:2019 dan ASCE 41-17. Sedangkan untuk pemodelan struktur menggunakan program bantu berbasis Finite Element Method (FEM). Hasil menunjukkan bahwa dengan menggunakan bubbledeck slab, bangunan dapat tereduksi sebesar 27% dan menunjukkan nilai drift pelat konvensional lebih kecil dibandingkan bubbledeck slab pada arah X, namun kinerja struktur bubbledeck slab lebih baik pada arah Y, berada pada tingkat immediate occupancy (IO) dengan roof drift ratio lebih kecil yaitu sebesar 0,859%. Untuk tingkat kinerja arah X, kedua sistem pelat memenuhi standar minimum bangunan kategori II yaitu life safety (LS) dan bangunan yang menggunakan pelat konvensional dengan roof drift ratio lebih besar sebesar 1,513%.