Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Strategi Komunikasi Persuasif Tokoh Masyarakat Dalam Menangani Keberadaan Kafe Remang-Remang Di Desa Cengar Kabupaten Kuantan Singingi Rusanti, Elvina; Harahap, Asrul
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 1 (2026): Februari - April
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i1.7837

Abstract

Keberadaan kafe remang-remang di Desa Cengar, Kabupaten Kuantan Singingi menimbulkan berbagai persoalan sosial yang berdampak pada ketertiban umum serta nilai moral, adat, dan agama masyarakat. Aktivitas yang berlangsung di dalam kafe tersebut dipersepsikan sebagai bentuk penyimpangan sosial yang berpotensi merusak keharmonisan kehidupan masyarakat serta melemahkan kontrol sosial, khususnya di kalangan generasi muda. Kondisi ini menempatkan tokoh masyarakat sebagai aktor sosial yang memiliki peran strategis dalam melakukan pengendalian sosial melalui komunikasi persuasif yang bersifat non-koersif dan berbasis nilai lokal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi komunikasi persuasif yang digunakan oleh tokoh masyarakat serta mengidentifikasi hambatan yang dihadapi dalam menangani keberadaan kafe remang-remang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan, wawancara mendalam dengan tokoh adat, tokoh agama, dan masyarakat, serta dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh masyarakat menerapkan strategi komunikasi persuasif melalui tiga pendekatan utama, yaitu pendekatan psikodinamika, sosiokultural, dan konstruksi makna. Pendekatan tersebut dilakukan melalui pemberian nasihat, dialog, serta penguatan nilai adat dan agama yang bertujuan membangun kesadaran kolektif masyarakat. Namun, implementasi strategi tersebut belum berjalan optimal karena adanya hambatan berupa faktor ekonomi yang dominan, lemahnya penegakan aturan, kurangnya koordinasi antarunsur masyarakat, serta keterbatasan pengawasan terhadap lokasi kafe. Dengan demikian, diperlukan sinergi yang lebih kuat antara tokoh masyarakat, pemerintah, dan aparat penegak hukum agar upaya pengendalian sosial melalui komunikasi persuasif dapat berjalan secara efektif dan berkelanjutan.