Kelompok tani berperan strategis sebagai kelembagaan petani dalam mendukung akses terhadap sarana produksi, permodalan, penyuluhan, dan jaringan pemasaran. Namun demikian, sebagian petani masih menjalankan usahatani tanaman pangan secara mandiri tanpa keterlibatan dalam kelompok tani. Penelitian ini bertujuan menganalisis dampak ketiadaan kelompok tani terhadap keberlanjutan usahatani tanaman pangan multikomoditas di Desa Padaasih, ditinjau dari aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data primer diperoleh melalui wawancara mendalam semi-terstruktur terhadap tiga petani yang mengelola usahatani multikomoditas secara mandiri dan tidak terafiliasi dengan kelompok tani, dipilih melalui purposive sampling. Data dianalisis secara deskriptif kualitatif melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiadaan kelompok tani berdampak negatif pada ketiga aspek keberlanjutan usahatani. Dari aspek ekonomi, petani menghadapi keterbatasan akses terhadap sarana produksi, permodalan formal, dan jaringan pemasaran, yang mengakibatkan rendahnya efisiensi usaha dan ketidakstabilan pendapatan. Dari aspek sosial, kondisi tersebut memperlemah kerja sama antar petani, membatasi pertukaran informasi dan pembelajaran kolektif, serta menurunkan modal sosial komunitas tani. Dari aspek lingkungan, pengelolaan lahan dan penggunaan input pertanian yang dilakukan secara individual dan tidak terkoordinasi berpotensi menurunkan kualitas sumber daya lahan dalam jangka panjang. Kelompok tani berperan penting dalam mendukung keberlanjutan usahatani tanaman pangan multikomoditas. Penguatan kelembagaan kelompok tani perlu diprioritaskan sebagai strategi untuk meningkatkan keberlanjutan ekonomi, sosial, dan lingkungan usahatani di Desa Padaasih.