Penelitian ini menganalisis pengembangan sosial emosional siswa berkebutuhan khusus (ABK), khususnya slow learner, melalui pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah inklusi SMP IT Harapan Bunda Purwokerto, menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan subjek utama kepala sekolah, guru PAI, guru pendamping khusus (GPK), dan siswa ABK, di mana data primer dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif selama proses pembelajaran, serta analisis dokumentasi seperti Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan Program Pembelajaran Individual (PPI), kemudian dianalisis mengikuti model Miles dan Huberman yang mencakup reduksi data, penyajian dalam narasi dan matriks, serta verifikasi melalui triangulasi sumber dan metode untuk menjamin validitas. Latar belakang menyoroti tantangan krusial ABK dalam mengelola emosi diri, memahami perspektif orang lain, serta berinteraksi efektif di lingkungan inklusi beragam, dengan PAI berperan strategis membentuk empati, nilai moral, pengendalian diri, dan keterampilan relasi melalui integrasi ajaran Islam seperti prinsip salat, doa, dan akhlak mulia yang disesuaikan kebutuhan individu. Hasil mengungkap proses terstruktur: perencanaan adaptif dengan modifikasi RPP dan PPI berbasis komponen CASEL (self-awareness, self-management, responsible decision-making, social awareness, relationship skills); pelaksanaan inovatif termasuk pendampingan melekat/non-melekat, kegiatan kelompok kolaboratif, dan penjurnalan emosi harian; serta evaluasi berkelanjutan via catatan anekdot dan laporan bulanan, diperkuat kolaborasi intensif guru PAI-GPK untuk lingkungan belajar suportif. Strategi PAI inklusif terbukti efektif meningkatkan adaptasi sosial emosional meski kendala sarana terbatas diatasi melalui kolaborasi orang tua dan profesional, direkomendasikan sebagai model replikabel bagi sekolah inklusi di Indonesia