Diabetes melitus tipe 2 (DMT2) merupakan masalah kesehatan global dengan prevalensi yang terus meningkat dan berisiko menimbulkan komplikasi jangka panjang. Kontrol gula darah yang optimal menjadi kunci utama dalam pencegahan komplikasi, namun sebagian besar pasien belum mencapai kontrol yang adekuat. Tingkat pengetahuan pasien merupakan salah satu faktor penting yang memengaruhi kemampuan pengelolaan mandiri dan hasil kontrol glikemik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat pengetahuan dengan kontrol gula darah pada pasien DMT2. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sebanyak 98 responden dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Tingkat pengetahuan dinilai menggunakan kuesioner Diabetes Knowledge Questionnaire (DKQ-24), sedangkan status glikemik diperoleh dari data rekam medis berdasarkan kadar gula darah sewaktu (GDS). Kontrol gula darah dikategorikan menjadi terkontrol (GDS 200 mg/dL) dan tidak terkontrol (GDS ≥200 mg/dL). Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi p0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan yang baik, namun mayoritas masih memiliki kadar gula darah yang tidak terkontrol. Terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan dengan kontrol gula darah (p0,001). Terdapat hubungan signifikan antara tingkat pengetahuan dengan kontrol gula darah pada pasien DMT2. Edukasi kesehatan berkelanjutan diperlukan untuk meningkatkan pengendalian gula darah dan menurunkan risiko komplikasi.