Transisi dari Industri 4.0 menuju Society 5.0 menandai perubahan paradigma mendasar dalam lanskap pendidikan global, berpindah dari otomatisasi masif menuju pendekatan yang berpusat pada manusia (human-centric) di mana teknologi berperan sebagai mitra integratif. Terlepas dari pesatnya adopsi perangkat digital, kesenjangan signifikan masih terjadi antara ketersediaan teknologi dan keterikatan psikologis siswa, yang sering kali memicu "kelelahan digital". Narrative review ini bertujuan untuk menganalisis pergeseran paradigma motivasi belajar baik intrinsik maupun ekstrinsik melalui integrasi ekosistem digital yang holistik di era 5.0. Sintesis komprehensif dilakukan terhadap literatur dari database bereputasi termasuk Scopus, Web of Science, dan Google Scholar, dengan fokus pada interaksi antara teknologi pendidikan dan psikologi belajar selama satu dekade terakhir.Temuan menunjukkan bahwa lingkungan pembelajaran personal yang berakar pada Self-Determination Theory (SDT) secara signifikan meningkatkan otonomi dan efikasi diri siswa, sehingga menumbuhkan motivasi intrinsik yang berkelanjutan. Namun, studi ini mengidentifikasi risiko "ekuilibrium gamifikasi", di mana imbalan ekstrinsik yang superfisial seperti lencana dan papan peringkat dapat merusak pembelajaran mandiri jika tidak diseimbangkan dengan kedalaman pedagogis. Lebih lanjut, fleksibilitas ekosistem digital menawarkan alternatif yang lebih unggul dibandingkan kekakuan model tatap muka tradisional dengan mendorong ekspresi identitas yang cair dan agensi kreatif. Pencapaian potensi penuh Society 5.0 memerlukan pergeseran dari digitalisasi administratif menuju pedagogi adaptif yang memprioritaskan kesejahteraan psikologis dan keterlibatan aktif.