Aktifitas budidaya pembesaran ikan Kuwe (Carangidae) di teluk Ambon sudah hampir mendekati satu dekade. Kebutuhan benih semakin meningkat sejalan dengan bertambahnya usaha keramba jaring apung (KJA) di dalam teluk. Aktifitas penangkapan benih di dalam teluk semakin bertambah walaupun benih yang dihasilkan dari hatchery juga tersedia. Hingga pelatihan dan penyuluhan ini dilaksanakan, masih banyak keluhan dari nelayan tentang tingkat kematian benih yang cukup tinggi, baik benih alam maupun dari hatchery. Kegiatan pengabdian kepada nelayan penangkap benih dan pembudidaya keramba jaring apungĀ bertujuan untuk mengurangi tingkat mortalitas benih yang baru ditangkap serta yang baru dipelihara di dalam keramba. Kegiatan penyuluhan dan pelatihan dilaksanakan di Desa Poka Kotamadya Ambon. Kegiatan ini melibatkan 17 nelayan penangkap benih ikan Kuwe dan pembudidaya KJA. Diawali dengan diskusi informal dengan nelayan pembudidaya, pemaparan materi bertujuan untuk menjawab permasalahan yang ada dan diakhiri dengan uji coba. Permasalahan yang diungkapkan adalah tingginya tingkat mortalitas benih yang berkisar antara 10-25%. Benih ikan kuwe hasil tangkapan nelayan baik yang disimpan dalam palka perahu atau ditampung dalam gogona sudah kurang sehat akibat sentuhan tangan, kondisi palka dan kepadatan yang tinggi. Perlakuan ketika pemindahan dari perahu ke keramba dengan menggunakan tudung saji juga menambah penurunan mutu benih akibat sisik ikan yang terlepas. Melalui penyajian materi yang menjelaskan tentang penanganan ikan pasca tertangkap dan pra-pemeliharaan di KJA, hasil uji coba menunjukkan penurunan tingkat mortalitas benih, menjadi kurang dari 2%. Melalui penyuluhan ini, pengetahuan tentang penanganan ikan pasca tangkap dan ketika dipindahkan ke KJA dapat menekan tingkat kematian benih.