Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Adaptive Discretion in Child Marriage Prevention: Street-Level Bureaucracy in Indonesia’s Islamic Marriage Administration Noorhaidi Hasan; Moh. Mufid; Nina Mariani Noor; Halili Rais; Zezen Zainul Ali
Journal of Islamic Law Vol. 7 No. 1 (2026): Journal of Islamic Law
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/jil.v7i1.5265

Abstract

The increase in the minimum age of marriage through Law No. 16 of 2019 represents a landmark reform in Islamic family law in Indonesia. However, the high number of marriage dispensation cases suggests that this statutory change has not automatically resulted in effective child protection. This article argues that preventing child marriage depends less on legislative reform and more on the discretionary practices of religious bureaucrats at the street level. Employing a socio-legal approach and a mixed-methods design, the study integrates a Knowledge, Attitudes, and Practices (KAP) survey, field observations, in-depth interviews, and focus group discussions conducted at four Offices of Religious Affairs (KUA) in the Special Region of Yogyakarta and Central Java. The findings reveal a pattern of normative ambivalence in defining maturity—between the legal age threshold and the fiqh (Islamic jurisprudence) concepts of ʿāqil (intellect) and bāligh (puberty)—reflecting a broader configuration of legal pluralism among state law, fiqh, and local norms. Nevertheless, most KUA officials demonstrate a substantive commitment to child protection through practices of adaptive discretion, normative mediation, and legal counseling in their roles as street-level bureaucrats. This article advances legal pluralism theory by demonstrating that normative negotiation occurs not only in society but also within state bureaucratic institutions, where Islamic family law is actively produced and operationalized as law in action. Ultimately, child protection in a plural legal order hinges on how institutional discretion is governed, embedded in, and negotiated through shifting configurations of authority among the state, religious actors, and local communities. [Kenaikan batas usia minimum perkawinan melalui Undang-Undang No. 16 Tahun 2019 merupakan tonggak penting dalam reformasi hukum keluarga Islam di Indonesia. Namun, tingginya jumlah permohonan dispensasi kawin menunjukkan bahwa perubahan normatif tersebut belum secara otomatis bertransformasi menjadi perlindungan anak yang efektif. Artikel ini berargumentasi bahwa pencegahan perkawinan anak lebih ditentukan oleh praktik diskresi birokrasi keagamaan di tingkat garis depan dibandingkan oleh reformasi legislasi semata. Dengan menggunakan pendekatan sosio-legal dan desain metode campuran, penelitian ini mengintegrasikan survei Pengetahuan, Sikap, dan Praktik (KAP), observasi lapangan, wawancara mendalam, serta diskusi kelompok terfokus yang dilaksanakan di empat Kantor Urusan Agama (KUA) di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. Temuan penelitian mengungkap pola ambivalensi normatif dalam memaknai kedewasaan—antara ambang batas usia legal dan konsep fikih tentang ʿāqil (kemampuan intelektual) dan bāligh (pubertas)—yang merefleksikan konfigurasi pluralisme hukum antara hukum negara, fikih, dan norma sosial lokal. Meskipun demikian, sebagian besar pejabat KUA menunjukkan komitmen substantif terhadap perlindungan anak melalui praktik diskresi adaptif, mediasi normatif, dan konseling hukum dalam perannya sebagai birokrat tingkat jalanan. Artikel ini memperluas teori pluralisme hukum dengan menunjukkan bahwa negosiasi normatif tidak hanya berlangsung di ranah sosial, tetapi juga di dalam institusi birokrasi negara, tempat hukum keluarga Islam secara aktif diproduksi dan dioperasionalkan sebagai hukum dalam praktik. Pada akhirnya, efektivitas perlindungan anak dalam tatanan hukum plural sangat bergantung pada bagaimana diskresi institusional diatur, ditanamkan, dan dinegosiasikan dalam konfigurasi otoritas yang terus berubah antara negara, aktor keagamaan, dan komunitas lokal.]
Towards the Reconstruction and Reinterpretation of al-Kulliyyāt al-Khams: A Study of Maqāṣid in the Interdisciplinary Islamic Studies Master's Program at UIN Sunan Kalijaga Moh. Mufid
Al-Mazaahib: Jurnal Perbandingan Hukum Vol. 13 No. 2 (2025): Al-Mazaahib
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/al-mazaahib.v13i2.4450

Abstract

This article aims to examine the research trends on Maqāṣid Sharī'ah topics within the Interdisciplinary Islamic Studies Master's Program at UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. This study is significant for developing Maqāsid Shariah studies in state Islamic universities. The research method employed is a literature study, utilizing data from student theses on the topic of Maqāsid Shariah to reveal trends in studies over a six-year period from 2018 to 2023. The results indicate that student theses tend to focus on the following topics: (1) studies of the thoughts of Maqāsid figures, (2) thematic fiqh studies from a Maqāsid perspective, (3) legal studies from a Maqāsid Shariah perspective, (4) public policy studies related to Maqāsid, and (5) Maqāsid approaches to interpreting Quranic verses. Their studies successfully initiated a new discourse in Maqāsid research within the Indonesian context through the development of: The hifz al-mithāq discourse regarding the disbandment of Hizbut Tahrir Indonesia; The hifz al-khuṣūṣiyah discourse concerning the issue of personal data protection in the Draft Law on Personal Data Protection; and The hifz al-mujtama' discourse within the discussion of Islamic legal dialogue in a pluralistic society in Kaloran. In conclusion, the Interdisciplinary Islamic Studies Master's Program develops Maqasid al-Shari'ah studies by reconstructing and reinterpreting al-Kulliyāt al-Khams, while actively incorporating the dynamic Islamic and Indonesian discourses. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji tren penelitian bertopik Maqāsid Syariah pada Program Magister Interdiscipliner Islamic Studies UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kajian ini penting untuk mengembangkan kajian Maqāsid Syariah di Perguruan Tinggi Islam Negeri. Metode penelitian ini adalah penelitian literatur dengan data berupa tesis mahasiswa bertema maqasid syariah untuk mengungkap tren studi selama enam tahun 2018-2023. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertama, kecenderungan penelitian tesis mahasiswa terfokus pada topik penelitian berikut: (1) kajian pemikiran tokoh maqasid; (2) kajian fikih tematik dengan perspektif maqāsid; (3) kajian yuridis hukum dengan perspektif maqāsid syariah (4) kajian kebijakan publik terkait maqāsid dan (5) kajian maqāsid sebagai pendekatan penafsiran ayat-ayat al-Quran. Studi mereka berhasil melahirkan wacana baru dalam kajian maqāsid dalam konteks Indonesia melalui pengembangan wacana hifz al-mitsāq dalam konteks pembubaran Hitbut Tahrir di Indonesia, wacana hifz al-khusūsiyah pada isu perlindungan data pribadi dalam Rancangan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi dan wacana hifz al-mujtama' pada diskursus dialog hukum Islam dalam masyarakat majemuk di Kaloran. Dalam konteks ini, dapat disimpulkan bahwa studi maqasid syariah di Program Magister Interdiscipliner Islamic Studies mengembangkan studi maqasid melalui rekonstruksi dan reinterpretasi kulliyat al-khams dengan mempertimbangkan wacana keislaman dan keindonesiaan yang dinamis.