Izza Afkarina Ulinnuha
Universitas KH. Mukhtar Syafaat

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Artikulasi kekuasaan dan resistensi dalam Novel Bungkam Suara karya J.S. Khairen: Suatu analisis wacana kritis Izza Afkarina Ulinnuha; Syafi’ Junadi
Jurnal Genre (Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya) Vol. 8 No. 1 (2026): JURNAL GENRE: (Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya)
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26555/jg.v8i1.15420

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis artikulasi kekuasaan dan resistensi dalam novel Bungkam Suara karya J.S. Khairen dengan menggunakan pendekatan Analisis Wacana Kritis (AWK) model Norman Fairclough. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan objek kajian berupa teks naratif dalam novel. Analisis dilakukan melalui tiga dimensi wacana, yaitu dimensi teks, praktik wacana, dan praktik sosial-budaya. Pada dimensi teks, hasil penelitian menunjukkan bahwa kekuasaan direpresentasikan melalui penggunaan bahasa koersif, pilihan diksi yang menandakan dominasi, serta struktur naratif yang bersifat otoritatif dan menormalisasi ketimpangan relasi kuasa. Pada tataran praktik wacana, kekuasaan direproduksi melalui proses produksi dan distribusi pesan yang bersifat hegemonik, khususnya melalui propaganda dan kontrol media yang membentuk persepsi masyarakat NKAL (Negara Kesatuan Adat Lamunisia)nama negara pada novel tersebut. Dalam konteks ini, Protokol Beo merupakan Simbol manipulasi dan pengendalian narasi, protokol beo hadir sebagai sarana resistensi yang melahirkan wacana tandingan untuk melemahkan dan mendekonstruksi narasi dominan penguasa. Selanjutnya, pada dimensi praktik sosial budaya, penelitian ini menemukan bahwa budaya hierarkis, budaya diam, dan kontrol informasi berperan penting dalam mempertahankan legitimasi kekuasaan. Namun, legitimasi tersebut mengalami keruntuhan ketika masyarakat mengembangkan kesadaran kritis dan mulai menafsirkan ulang wacana yang beredar. Penelitian ini menyimpulkan bahwa novel Bungkam Suara memperlihatkan bagaimana wacana dapat berfungsi sebagai instrumen kekuasaan sekaligus sarana resistensi, serta menegaskan bahwa perubahan sosial dapat terjadi melalui transformasi wacana.