Agustina Br Haloho
Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif, Fakultas Kedokteran, Universitas Sriwijaya, Palembang, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengaruh Keseimbangan Cairan terhadap Outcome Pasien Gagal Ginjal Akut di ICU: Sebuah Tinjauan Sistematis Ina Dhea Margaretta Ginting; Agustina Br Haloho
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 44 No 1 (2026): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v44i1.481

Abstract

Pendahuluan: Keseimbangan cairan merupakan komponen penting dalam penatalaksanaan pasien kritis di unit perawatan intensif (ICU). Gagal ginjal akut sering terjadi pada pasien ICU dan berhubungan dengan prognosis buruk, peningkatan mortalitas, serta rendahnya pemulihan fungsi ginjal. Salah satu faktor yang memengaruhi luaran adalah manajemen keseimbangan cairan, terutama akumulasi cairan positif setelah fase resusitasi awal. Metode: Tinjauan sistematik ini bertujuan menilai pengaruh keseimbangan cairan terhadap luaran pasien gagal ginjal akut di ICU berdasarkan pedoman PRISMA 2020. Pencarian literatur dilakukan melalui PubMed dan ScienceDirect menggunakan kata kunci relevan. Dari 803 artikel yang teridentifikasi, tujuh studi dalam lima tahun terakhir yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dianalisis. Hasil: Dari tujuh studi yang dianalisis, seluruhnya menunjukkan bahwa keseimbangan cairan kumulatif positif setelah diagnosis gagal ginjal akut menjadi faktor prediktor utama terhadap luaran buruk. Penumpukan cairan disebabkan oleh pemberian cairan maintenance dan nutrisi berlebih, rendahnya produksi urin, serta kurangnya penggunaan diuretik. Pasien dengan keseimbangan cairan tinggi persisten memiliki risiko kematian 28 hari dua kali lebih besar dan pemulihan ginjal yang lebih lambat dibanding kelompok dengan keseimbangan cairan rendah. Sebaliknya, penurunan cepat keseimbangan cairan berkorelasi dengan penurunan mortalitas dan perbaikan fungsi ginjal yang lebih cepat. Simpulan: Akumulasi cairan positif pada pasien gagal ginjal akut di ICU terbukti meningkatkan mortalitas dan memperlambat pemulihan ginjal. Strategi deresusitasi dan pemantauan ketat keseimbangan cairan perlu menjadi prioritas utama untuk memperbaiki prognosis pasien gagal ginjal akut.
Hubungan Intensitas Fisioterapi Respirasi dengan Lama Pemakaian Ventilator Mekanik Pada Pasien ICU Dewasa: Tinjauan Sistematik Aisyah Mulya Zhafirah; Agustina Br Haloho
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 44 No 2 (2026): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v44i2.460

Abstract

Fisioterapi respirasi berperan penting dalam pemulihan pasien ICU dengan ventilasi mekanik, namun pengaruh intensitas terhadap lama pemakaian ventilator masih belum jelas akibat kurangnya perhatian pada aspek dosis-respons. Tinjauan sistematik ini bertujuan menilai hubungan intensitas fisioterapi respirasi dengan lama pemakaian ventilator mekanik pada pasien dewasa di ICU.Tinjauan disusun mengikuti PRISMA 2020 dengan penelusuran literatur pada PubMed, ScienceDirect,dan Europe PMC. Studi yang diinklusi adalah RCT dan uji klinis pada pasien dewasa ventilasi mekanik invasif di ICU dengan intervensi fisioterapi respirasi yang melaporkan informasi intensitas (frekuensi, durasi, atau dosis) dan luaran berupa lama ventilasi dan/atau ventilator-free days. Risiko bias dinilai menggunakan Cochrane RoB 2 dan NOS. Empat RCT memenuhi kriteria inklusi. Highintensity inspiratory muscle training (IMT) sekali sehari meningkatkan kualitas hidup namun tidak memengaruhi durasi ventilasi. Fisioterapi pada pasien COVID-19 meningkatkan kelangsungan hidup 90 hari tanpa memperbaiki ventilator-free days. Continuous high-frequency oscillation 3–4 sesi/hari menurunkan jaringan paru non-aerasi dan meningkatkan ventilator-free days. Threshold IMT intensif memperpendek weaning days dibanding fisioterapi konvensional. Tinjauan literatur ini menemukan bahwa intensitas fisioterapi respirasi berhubungan dengan lama pemakaian ventilator mekanik. Pemberian intensitas yang lebih tinggi (≥3 sesi/hari atau threshold loading) cenderung memperpendek durasi weaning dan meningkatkan ventilator-free days dibandingkan intensitas rendah. Diperlukan uji klinis multisenter dengan definisi intensitas terstandar untuk menetapkan dosis optimal.