Tradisi Balimau Kasai merupakan ritual penyucian diri masyarakat Kampar yang dilaksanakan menjelang bulan Ramadan dan mengandung nilai religius, sosial, serta kultural. Namun, dalam perkembangan masyarakat modern, tradisi ini mengalami perubahan makna dan praktik yang memerlukan pemahaman lebih mendalam. Artikel ini bertujuan untuk menafsirkan makna tradisi Balimau Kasai sebagai ritual penyucian diri melalui pendekatan hermeneutika filosofis Hans-Georg Gadamer. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur terhadap artikel-artikel ilmiah, buku, dan hasil penelitian terpublikasi yang relevan dengan tradisi Balimau Kasai dan teori hermeneutika Gadamer. Analisis dilakukan dengan menelaah simbol-simbol ritual Balimau Kasai dalam kerangka pra-pemahaman, kesadaran sejarah efektif, dan fusi horizon. Hasil kajian menunjukkan bahwa Balimau Kasai merupakan tradisi yang hidup dan dinamis, di mana maknanya terus dibentuk oleh interaksi antara warisan masa lalu dan konteks sosial kekinian. Tradisi ini tidak hanya berfungsi sebagai ritual keagamaan, tetapi juga sebagai sarana pembentukan identitas dan kohesi sosial masyarakat Kampar. Kesimpulannya, pendekatan hermeneutika Gadamer mampu mengungkap makna filosofis Balimau Kasai sebagai tradisi yang adaptif dan relevan dalam menghadapi dinamika kehidupan masyarakat kontemporer. Kata Kunci Hermeneutika Gadamer, Balimau Kasai, tradisi lokal, penyucian diri, budaya Melayu Kampar